Agustus 24, 2026

Banjir dan Longsor Terjang Filipina, 12 Tewas dan 8 Hilang

IMG-20260811-WA0017

Tanah longsor dan banjir yang disebabkan oleh hujan monsun tanpa henti di Filipina telah menyebabkan setidaknya 12 orang tewas, 11 luka-luka, dan 8 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Senin (10/8) waktu setempat .

Kepala Kantor Pertahanan Sipil Filipina, Laurence Mina, mengungkapkan bahwa seluruh korban jiwa dilaporkan berasal dari Pulau Luzon, pulau terbesar dan terpadat di Filipina, mencakup wilayah Ilocos, Cordillera, dan Calabarzon . Penyebab kematian bervariasi, mulai dari tanah longsor, runtuhan batu, pohon tumbang, sengatan listrik, hingga tenggelam .

Hujan deras yang dipicu oleh angin muson barat daya yang diperkuat oleh dua siklon tropis, Luis dan Maymay, ini berdampak luas. Dewan Penanggulangan Bencana Nasional Filipina (NDRRMC) mencatat lebih dari 586.000 jiwa di 33 provinsi terkena dampak bencana . Ratusan rumah dan infrastruktur dilaporkan rusak, serta lebih dari 32.800 warga kehilangan tempat tinggal dan mengungsi di pusat-pusat evakuasi atau menumpang di rumah kerabat .

Salah satu peristiwa paling tragis terjadi di kota wisata pegunungan Baguio. Sebuah tanah longsor menimpa beberapa rumah pada Minggu (9/8) malam, menewaskan empat orang dan menyebabkan enam lainnya hilang . Sebanyak 150 petugas penyelamat dikerahkan untuk melakukan pencarian terhadap korban yang masih terkubur di tengah medan berbahaya dan hujan yang masih turun . Tiga orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat .

Hujan lebat juga merendam wilayah Metro Manila dan sekitarnya . Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan seluruh pegawai pemerintah untuk bekerja dari rumah dan menerapkan moda pembelajaran alternatif bagi sekolah-sekolah di Metro Manila serta lebih dari selusin provinsi . Petugas pesisir dan penjaga pantai dikerahkan untuk membantu evakuasi warga di komunitas yang terendam banjir dengan perahu karet .

Hingga berita ini diturunkan, hujan masih mengguyur sebagian wilayah Luzon, meskipun dengan intensitas yang mulai berkurang. Namun, otoritas setempat masih siaga karena potensi bencana susulan masih ada . Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi dari petugas. Sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana. Mari kita bersama meningkatkan kepedulian dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *