Agustus 11, 2026

Berliansyah Dorong Program Kampung Bahagia Tak Hanya Berfokus pada Infrastruktur

IMG_20260805_173126

JAMBI – Ketua Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Provinsi Jambi, Berliansyah, menilai pelaksanaan tahap kedua Program Kampung Bahagia perlu diarahkan pada pembangunan yang lebih menyeluruh. Menurut dia, program tersebut tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek keagamaan, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat.
Program Kampung Bahagia yang digagas Pemerintah Kota Jambi memasuki fase kedua setelah pada tahap pertama pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp100 juta untuk setiap rukun tetangga (RT). Dana tersebut ditujukan untuk mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lingkungan.
Berliansyah mengatakan pelaksanaan tahap pertama secara umum berjalan baik, meski masih diwarnai sejumlah kendala teknis yang, menurut dia, sebagian dipengaruhi oleh disinformasi. Namun, ia menilai terdapat sejumlah aspek yang perlu dievaluasi pada pelaksanaan berikutnya.
Menurut Berliansyah, istilah “Bahagia” dalam program tersebut tidak hanya bermakna sebagai keadaan senang, tenteram, dan puas, tetapi juga merupakan akronim dari visi Pemerintah Kota Jambi, yakni Bersih, Aman, Harmonis, Agamis, Inovatif, dan Sejahtera.
“Apabila seluruh unsur tersebut dapat diwujudkan secara seimbang, maka tujuan menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat akan lebih mudah tercapai,” kata Berliansyah.
Ia menilai penggunaan anggaran pada tahap pertama masih didominasi untuk pembangunan infrastruktur dan pengadaan sarana lingkungan. Menurut dia, sebagian besar anggaran dialokasikan untuk kebutuhan fisik, sementara unsur Agamis, Inovatif, dan Sejahtera belum mendapat perhatian yang memadai.
“Program ini jangan hanya berbicara soal pembangunan fisik. Dalam slogan Bahagia terdapat nilai Agamis, Inovatif, dan Sejahtera yang hingga kini belum tersentuh secara optimal. Padahal ketiga aspek tersebut merupakan bagian penting dari visi pembangunan masyarakat,” ujarnya.
Berliansyah berpendapat implementasi nilai-nilai tersebut semestinya menjadi bagian dari kegiatan yang didanai melalui Program Kampung Bahagia. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan secara fisik, tetapi juga meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dari sisi sosial, ekonomi, dan spiritual.
Untuk menggambarkan pandangannya, ia mengibaratkan pelaksanaan program tersebut seperti proses memasak rendang.
“Jika ingin menghasilkan rendang dalam porsi besar dengan cita rasa yang baik, tentu racikan bumbu harus benar sejak porsi kecil. Ketika skala kecil berhasil, maka hasil pada skala besar pun akan mengikuti,” katanya.
Menurut Berliansyah, pendekatan serupa berlaku dalam pembangunan masyarakat. Ia menilai pencapaian visi Pemerintah Kota Jambi akan lebih efektif apabila pembinaan dilakukan mulai dari unit pemerintahan terkecil, yakni RT.
Ia juga menilai pembinaan keagamaan tidak cukup hanya dilakukan melalui rumah ibadah karena tidak seluruh warga aktif mengikuti kegiatan keagamaan di tempat ibadah. Demikian pula upaya peningkatan kesejahteraan, yang menurutnya tidak bisa sepenuhnya bergantung pada program perangkat daerah.
“Masih banyak masyarakat di tingkat akar rumput yang belum tersentuh secara menyeluruh,” ujarnya.
Karena itu, Berliansyah berharap pelaksanaan tahap kedua Program Kampung Bahagia menjadi momentum penyempurnaan kebijakan. Ia mendorong agar alokasi program tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup pembinaan keagamaan, penguatan inovasi masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi warga sehingga tujuan Program Kampung Bahagia dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *