China Targetkan 50 Persen Pasokan Listrik dari Energi Nonfosil pada 2030, Percepat Transisi Hijau
(260709) -- FUZHOU, July 9, 2026 (Xinhua) -- A drone photo taken on July 6, 2026 shows a view of China Three Gorges Corporation's 180 MW Dongshan Xingchen offshore solar farm in Zhangzhou City, southeast China's Fujian Province. The province of Fujian is rich in high-quality clean energy resources like wind power, solar energy, hydro power and nuclear power. In recent years, Fujian has relied on its local clean energy endowment and geographical advantages to build its smart new power grids and develop
China menargetkan peningkatan porsi listrik yang dihasilkan dari sumber energi nonfosil menjadi 50 persen pada 2030, ungkap rencana nasional negara itu tentang pengembangan sektor kelistrikan periode 2026-2030 yang baru saja dirilis. Rencana ini menandai langkah ambisius dalam transisi energi negara dengan emisi karbon terbesar di dunia.
Rencana lima tahun tersebut, yang dirilis oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China bersama Administrasi Energi Nasional China, memaparkan peta jalan menyeluruh bagi sektor kelistrikan negara tersebut selama periode 2026-2030 dan menargetkan pembentukan awal sistem kelistrikan baru per 2030. Rencana ini menjadi panduan bagi investasi dan pengembangan infrastruktur energi di China selama lima tahun ke depan.
Berdasarkan rencana itu, China menargetkan integrasi tingkat tinggi lebih dari 2,8 miliar kilowatt kapasitas energi baru ke dalam jaringan listrik dan membangun jaringan infrastruktur pengisian daya yang mampu mendukung lebih dari 110 juta kendaraan listrik per 2030. Angka ini menunjukkan komitmen China untuk tidak hanya memproduksi energi bersih tetapi juga mengadopsi teknologi ramah lingkungan di sektor transportasi.
Untuk mewujudkan target-target itu, rencana tersebut menguraikan serangkaian prioritas, termasuk memperluas pasokan listrik hijau dan rendah karbon, membangun jaringan listrik yang lebih terkoordinasi dan tangguh, meningkatkan fleksibilitas sistem kelistrikan, meningkatkan ketahanan pasokan listrik, memajukan reformasi sektor kelistrikan yang berorientasi pasar, serta mendorong kerja sama internasional. Pendekatan komprehensif ini diperlukan untuk mengatasi tantangan integrasi energi terbarukan yang bersifat intermiten.
Rencana tersebut menyerukan upaya untuk menyeimbangkan antara pengembangan energi terbarukan dengan integrasi ke jaringan listrik, memajukan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) konvensional secara ilmiah, mendorong pengembangan tenaga nuklir yang aman dan teratur, mendukung diversifikasi pengembangan sumber energi nonfosil, serta menyempurnakan efisiensi dan kinerja karbon dari pembangkit listrik tenaga batu bara. PLTA akan berfungsi sebagai sumber energi yang stabil untuk melengkapi energi terbarukan yang fluktuatif.
Per 2030, China berencana meningkatkan kapasitas terpasang di PLTA konvensionalnya menjadi sekitar 410 juta kilowatt, kapasitas tenaga nuklir menjadi sekitar 110 juta kilowatt, dan total kapasitas terpasang dari energi biomassa, panas surya, panas bumi, dan energi laut menjadi sekitar 65 juta kilowatt. Diversifikasi sumber energi ini akan mengurangi ketergantungan pada batu bara dan meningkatkan keandalan pasokan listrik.
Data resmi terdahulu menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara tercatat menyumbang 49,7 persen dari total output listrik China pada paruh pertama 2026, menandai untuk pertama kalinya porsi tersebut turun di bawah 50 persen, sekaligus menandai tonggak sejarah baru dalam transisi negara itu menuju sistem energi hijau dan rendah karbon. China berkomitmen untuk mencapai puncak emisi karbon dioksida sebelum 2030 dan mewujudkan netralitas karbon sebelum 2060.
Implementasi rencana ini akan menjadi kunci bagi China untuk mencapai target iklimnya dan memainkan peran penting dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Masyarakat internasional akan terus memantau kemajuan China dalam transisi energi ini, yang akan mempengaruhi pasar energi global dan upaya mitigasi perubahan iklim secara keseluruhan. Keberhasilan China dalam mencapai target ini akan menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lainnya dalam melakukan transisi menuju ekonomi hijau.
