Mei 25, 2026

Gaza krisis kemanusiaan, Terkepung, Eropa Protes, AS Tak Bergeming

Gaza-1-840x493

Gaza krisis kemanusiaan – Militer Israel menewaskan 151 warga sipil Gaza dalam satu hari pada 13-14 Mei — angka yang memicu gelombang protes besar di London, Berlin, dan Paris. Fasilitas medis termasuk rumah sakit dikepung, memutus akses pasokan obat dan bantuan kemanusiaan. Misi kemanusiaan Indonesia yang beroperasi di salah satu fasilitas itu ikut terdampak langsung. Di Washington, tidak ada perubahan kebijakan: AS tetap mempertahankan dukungan militer dan diplomatik penuh kepada Tel Aviv, meski tekanan dari sekutu Eropa dan masyarakat sipil global terus menguat.Begitupun wacana israel raya semakin menguat.

Rumah Sakit Dikepung, Bantuan Terputus

Pengepungan fasilitas medis adalah dimensi paling kontroversial dari operasi militer Israel pekan ini. Lembaga kemanusiaan internasional mengonfirmasi bahwa rumah sakit-rumah sakit di Gaza kehilangan akses pasokan obat, darah, dan bahan bakar untuk generator — infrastruktur minimum yang memisahkan pasien kritis dari kematian. Organisasi Kesehatan Dunia dan LSM kemanusiaan menyerukan akses tanpa hambatan, sementara Israel mempertahankan narasi bahwa operasinya menyasar infrastruktur militer Hamas yang menggunakan fasilitas sipil sebagai perisai.

Keterlibatan misi kemanusiaan Indonesia di salah satu rumah sakit yang terdampak menempatkan Jakarta dalam posisi yang lebih dari sekadar pengamat. Indonesia yang baru saja hadir di BRICS FMM New Delhi dan secara eksplisit mendorong gencatan senjata permanen di Gaza kini menghadapi kenyataan bahwa seruan diplomatik di forum internasional belum mengubah apa pun di lapangan — di mana tenaga medis dan relawan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, bekerja di bawah ancaman yang tidak mereda.

Krisis kesehatan yang menyertai pengepungan bersifat kumulatif dan eksponensial: tanpa obat, kasus yang seharusnya bisa ditangani menjadi fatal. Tanpa bahan bakar, generator mati dan pasien yang bergantung pada peralatan listrik tidak bisa bertahan. Dan tanpa akses kemanusiaan yang terjamin, setiap hari pengepungan berlanjut adalah hari di mana jumlah korban yang tidak perlu terjadi terus bertambah.

Eropa Protes, AS Tidak Bergerak

Protes yang melanda kota-kota Eropa bukan hanya ekspresi simpati — ini adalah tekanan politik yang mulai memiliki konsekuensi elektoral. Di Inggris, Jerman, dan Prancis, pemerintah menghadapi pertanyaan keras dari parlemen tentang sejauh mana dukungan kepada Israel bisa dipertahankan di tengah laporan korban sipil yang terus bertambah. Beberapa anggota parlemen Eropa sudah menyerukan pembekuan penjualan senjata ke Israel.

AS memilih posisi yang tidak berubah: mendukung Israel secara militer dan diplomatik sambil menyerukan solusi dua negara sebagai kerangka jangka panjang. Formulasi ini sudah lama menjadi standar kebijakan Washington — cukup untuk mempertahankan hubungan dengan Tel Aviv, tidak cukup untuk memuaskan sekutu Eropa yang tekanan publiknya semakin berat. Keterbelahan ini memperlemah posisi Barat secara kolektif di forum internasional: ketika AS dan Eropa tidak bisa menyuarakan posisi yang sama tentang Gaza, kredibilitas mereka untuk berbicara tentang norma internasional dan hukum humaniter di forum lain — termasuk dalam konteks konflik Iran dan krisis Ukraina — ikut terkikis.

Di Global South, termasuk di negara-negara anggota BRICS dan OKI, konflik Gaza terus memperkuat narasi bahwa tatanan global pimpinan AS menerapkan standar ganda: lantang soal hukum internasional ketika menyangkut kepentingannya sendiri, diam ketika yang melanggar adalah sekutunya. Narasi itu tidak membutuhkan bukti tambahan — 151 korban sipil dalam satu hari sudah cukup berbicara sendiri.

Tekanan yang Tidak Akan Berhenti

Selama operasi militer Israel berlanjut dengan intensitas ini, tekanan terhadap AS dan Israel tidak akan surut — justru sebaliknya. Masyarakat sipil global yang terhubung melalui media sosial bergerak lebih cepat dari diplomasi formal. Setiap video dari Gaza yang viral adalah putaran baru tekanan publik yang memaksa pemerintah Eropa untuk memilih antara mempertahankan posisi resmi atau merespons konstituen mereka. Dan bagi Indonesia, yang telah menempatkan dirinya sebagai suara perdamaian di BRICS dan OKI, kehadiran nyata di lapangan Gaza bukan hanya komitmen kemanusiaan — ini adalah konsistensi yang membuat posisi diplomatik Jakarta memiliki bobot moral yang tidak dimiliki negara-negara yang hanya berbicara di podium tanpa hadir di lapangan.


  1. “Indonesia dorong gencatan senjata Gaza di BRICS FMM” — /nasional/indonesia-brics-fmm-sugiono-perdamaian-2026/
  2. “serangan Israel Gaza korban sipil protes Eropa” — /konflik-dunia/serangan-israel-gaza-korban-sipil-protes-eropa-2026/
  3. “Huckabee negara Teluk pilih Iran atau Israel” — /geopolitik/huckabee-negara-teluk-pilih-iran-israel-iron-dome-uea-2026/
  4. “Islamic NATO BRICS poros keamanan muslim” — /geopolitik/islamic-nato-brics-fmm-indonesia-global-south-2026/
  5. “kemandirian pertahanan Eropa ReArm” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *