Mei 25, 2026

IRAN ULTIMATUM AS TERIMA PROPOSAL 14 POIN, ANCAM PENGAYAAN URANIUM KE 90 PERSEN

fasilitas-pengayaan-uranium-N1atanz-di-Iran-tengah

Ininih.com — Kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan ultimatum langsung kepada Washington pada Selasa 12 Mei: terima proposal 14 poin Teheran atau tidak ada jalan keluar dari konflik ini. Ultimatum itu datang sehari setelah Trump menyebut proposal tandingan Iran sebagai “sampah” dan menegaskan AS mengincar “kemenangan penuh.” Di hari yang sama, juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menambahkan ancaman yang berbeda levelnya: jika konflik kembali pecah, parlemen akan mengkaji pengayaan uranium hingga 90 persen — ambang yang memisahkan Iran dari kepemilikan senjata nuklir hanya dalam hitungan teknis.

Dua Proposal yang Tidak Bisa Bertemu

Jarak antara posisi AS dan Iran tidak bisa dijelaskan sekadar sebagai perbedaan taktis — ini adalah dua kerangka penyelesaian yang saling menegasikan. AS mengajukan nota kesepahaman satu halaman yang intinya menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan membuka Selat Hormuz. Iran merespons dengan dokumen 14 poin yang mencakup penghentian perang di semua lini termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan selama puluhan tahun sanksi, jaminan keamanan terhadap serangan AS atau Israel di masa depan, penarikan pasukan AS dari sekitar perbatasan Iran, ganti rugi perang, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Trump mengklaim negosiator Iran sempat mengisyaratkan secara verbal kesediaan membiarkan AS mengambil stok uranium Iran — tetapi indikasi itu tidak masuk ke dalam dokumen tertulis yang diserahkan. Ghalibaf di platform X menyindir bahwa semakin lama Washington menunda keputusan, semakin besar beban yang harus ditanggung pembayar pajak Amerika. Sindirannya tidak kosong: Pentagon melaporkan biaya perang sudah mencapai hampir US$29 miliar — naik US$4 miliar hanya dalam dua pekan terakhir.

Gencatan Senjata yang Tinggal Nama

Trump sendiri mengakui bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April berada dalam kondisi “luar biasa lemah.” Pernyataan itu bukan retorika kosong — di lapangan, AS mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sementara Iran terus mencekik lalu lintas di Selat Hormuz. IRGC dilaporkan menggelar latihan di Teheran untuk meningkatkan kemampuan tempur menghadapi “pergerakan musuh Amerika-Zionis.” Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik secara eksplisit menyatakan jika AS tidak tunduk pada tuntutan Iran di arena diplomatik, mereka harus bersiap menghadapi “kekalahan berulang di medan perang.”

Trump mengindikasikan kemungkinan melanjutkan Project Freedom — operasi pengawalan kapal yang sempat dihentikan pada 5 Mei — dan menyebut jika dilanjutkan, itu hanya akan menjadi “sebagian” dari operasi militer yang lebih besar. Sinyal itu, dikombinasikan dengan penolakan keras terhadap proposal Iran, membuat prospek terobosan diplomatik dalam waktu dekat hampir tidak realistis.

Uranium 90 Persen dan Garis yang Tidak Boleh Dilampaui

Ancaman pengayaan uranium ke 90 persen adalah eskalasi paling berbahaya yang muncul dari krisis ini. Iran saat ini sudah mengayakan uranium hingga 60 persen — hanya 30 persen di bawah ambang senjata. Rezaei menyebut opsi ini akan dibahas di parlemen jika Iran diserang lagi. Bagi Washington, langkah Iran menuju 90 persen hampir pasti akan memicu respons militer, karena AS sejak lama menetapkan kepemilikan senjata nuklir Iran sebagai garis merah absolut.

Yang membuat situasi ini lebih berbahaya dari krisis nuklir Iran sebelumnya adalah konteksnya: dua pihak yang sudah saling serang secara terbuka, dengan gencatan senjata yang diakui sendiri oleh Trump hampir runtuh, kini berdebat soal material yang jarak teknisnya dari bom nuklir bisa diukur dalam minggu. Pakistan sebagai mediator terus berupaya, tetapi dengan proposal AS dan Iran yang saling menafikan satu sama lain secara fundamental, beban yang harus diangkat Islamabad jauh melampaui kapasitas mediasi konvensional.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *