Juni 3, 2026

Kim Jong-un Puji Self-Blasting (Tentara yang Ledakkan Diri): “Kesetiaan Tertinggi kepada Negara

IMG_20260530_120919

Kim Jong-un puji self-blasting prajuritnya di medan perang Ukraina dalam pidato publik yang menjadi pengakuan paling eksplisit Pyongyang atas doktrin ekstrem ini — bahwa tentara Korea Utara diperintahkan memilih kematian daripada penangkapan.

Dalam peresmian kompleks memorial besar di pinggiran Pyongyang yang menampilkan patung perunggu raksasa tentara Korea Utara dan Rusia dalam pertempuran, Kim menyatakan bahwa mereka yang “tanpa ragu memilih self-blasting” dan serangan bunuh diri telah menunjukkan bentuk kesetiaan tertinggi.

Pada 26 April, Korea Utara membuka Museum Memorial Operasi Militer Luar Negeri — museum pertama semacam ini dalam sejarah Korut — yang berpusat pada pasukan yang bertempur bersama Rusia melawan Ukraina. Museum ini juga menampilkan pameran peralatan militer yang direbut di Ukraina, termasuk tank Leopard 2A4, M1A1 Abrams, kendaraan tempur Marder, dan kendaraan lapis baja AMX-10RC.

Kim menyebut para tentara yang menghancurkan diri sendiri tidak mengharapkan kompensasi atau penghargaan apa pun atas “pengorbanan diri melalui self-blasting” mereka. Ia menyebut tindakan itu dua kali dalam pidatonya, keduanya dalam konteks mempertahankan kehormatan negara.
Seorang tentara Korut yang ditangkap dalam kondisi luka bahkan dilaporkan mencoba menggigit pergelangan tangannya sendiri agar tidak bisa diinterogasi.

Upacara itu dihadiri Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov dan Ketua Duma Vyacheslav Volodin, menandai kehadiran delegasi senior Moskow dalam momen yang dirancang Pyongyang sebagai perayaan persaudaraan militer kedua negara.

Angka korban menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas di balik perayaan ini. Museum baru itu memiliki makam sekitar 280 tentara, sementara intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 2.000 tentara Korut tewas selama operasi di wilayah Kursk. Sebelumnya, Pyongyang hanya mengakui 101 tentara yang gugur. Tidak ada angka resmi yang pernah dirilis oleh Pyongyang maupun Moskow.

Secara keseluruhan, diperkirakan 15.000 tentara Korut telah dikerahkan ke Rusia untuk mendukung operasi tempur, termasuk upaya merebut kembali wilayah Kursk yang pernah dimasuki Ukraina. Sekitar 6.000 di antaranya dilaporkan tewas atau terluka.

Dua tentara Korut yang berhasil ditangkap Ukraina dalam kondisi luka — sehingga tidak mampu mengakhiri hidup mereka sendiri — belakangan menyatakan ingin membelot ke Seoul saat diwawancarai media Korea Selatan.
Fakta ini membuka pertanyaan tentang seberapa dalam indoktrinasi itu benar-benar tertanam, dan seberapa besar sebagiannya runtuh ketika berhadapan langsung dengan realitas perang.

Yang sesungguhnya sedang dirayakan Kim bukan hanya pengorbanan — melainkan sebuah preseden. Korut kini menjadi satu-satunya negara ketiga yang secara resmi mengirim pasukan tempur langsung ke garis depan konflik Rusia-Ukraina, dan museum ini adalah cara Pyongyang mengabadikan keterlibatan itu sebagai bagian dari identitas militer nasional. Semakin dalam Korut menanamkan narasi “mati sebelum menyerah” ke dalam kesadaran kolektif tentaranya, semakin sulit bagi siapapun — termasuk tentara itu sendiri — untuk memilih jalan lain.


Internal link:

  • “gencatan senjata AS-Iran rapuh” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
  • “geopolitik Eropa dan kemandirian pertahanan” — /geopolitik/eropa-kemandirian-pertahanan-rearme-as-2026/
  • “Trump dan dinamika summit Beijing” — /geopolitik/trump-xi-summit-beijing-iran-taiwan-perdagangan-2026/
  • “BRICS dan New Delhi” — /geopolitik/brics-fmm-new-delhi-iran-uae-selat-hormuz-2026/
  • “konflik Gaza Lebanon” — /konflik-dunia/gaza-lebanon-gencatan-dilanggar-2026/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *