Kontraktor Tiongkok Lanjutkan Warisan Cheng Ho di Semarang melalui Pembangunan Tol Tanggul Pertama
Semarang, kota pelabuhan utama di Pulau Jawa, memiliki sejarah yang kaya hingga abad ke-15, ketika navigator Tiongkok Zheng He (dikenal juga sebagai Laksamana Cheng Ho) beberapa kali singgah dalam pelayaran maritim bersejarahnya. Catatan sejarah menunjukkan bahwa “kapal harta karun” Laksamana Cheng Ho tidak hanya membawa perdagangan yang berkembang pesat, tetapi juga hubungan yang berkelanjutan antara kedua bangsa. Kuil Sam Poo Kong berdiri hingga saat ini sebagai bukti abadi warisannya.
Proyek Jalan Tol Semarang-Demak
Menuju utara dari pusat kota Semarang, deru mesin terdengar di lokasi pembangunan jalan tol tanggul pertama di Indonesia. Yue Zhenhong, manajer proyek pengembangan jalan tol Semarang-Demak 1B yang dibangun oleh China Road and Bridge Corporation (CRBC), memimpin proyek yang mengintegrasikan fungsi transportasi dan pengendalian banjir.
Di belakangnya, buldoser dan alat pemadat jalan beroperasi, sementara lebih dari 1.000 truk pengangkut material beroperasi sepanjang waktu, menciptakan suasana sibuk. “Kami bekerja dalam sif 24 jam tanpa henti untuk mencoba menyelesaikan konstruksi penggalian tanah dasar sebelum musim hujan tiba,” kata pria berusia 35 tahun itu.
Baik Semarang maupun Demak terletak di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah. Selama bertahun-tahun, kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan raya nasional yang menghubungkan kedua tempat tersebut sangat parah. Pemerintah berharap dapat mengurangi tekanan lalu lintas dan menyelesaikan masalah banjir pasang surut yang sudah berlangsung lama melalui proyek ini.
Setelah rampung, waktu tempuh antara kedua kota akan berkurang drastis dari 60 menit saat jam sibuk menjadi hanya 10 menit, secara signifikan menurunkan biaya logistik dan memberikan momentum baru bagi pertumbuhan ekonomi setempat.
Inovasi Konstruksi
Lapisan lumpur lunak yang dalamnya mencapai 30 meter di bawah dasar laut di sepanjang rute membuat konstruksi seperti “membangun rumah di atas tahu.” Meningkatkan daya dukung fondasi yang lunak sekaligus mengendalikan stabilitas konstruksi dan penurunan pascakonstruksi merupakan tantangan besar bagi tim proyek.
“Disesuaikan dengan kondisi geologi setempat dan ketersediaan sumber daya, kami secara kreatif menerapkan solusi perawatan fondasi untuk tanah yang sangat lunak: tiang dan tikar bambu ditambah papan drainase vertikal dan horizontal dengan prapembebanan tambahan,” jelas Yue.
Dengan menggunakan bambu yang melimpah di daerah setempat untuk menggantikan material beremisi karbon tinggi seperti baja dan semen, proyek ini secara signifikan akan memangkas emisi karbon di sepanjang siklus hidupnya.
Pengembangan Sumber Daya Manusia Lokal
Selama lebih dari 20 tahun beroperasi di Indonesia, CRBC telah membangun berbagai proyek penting yang menjadi landmark. Proyek-proyek tersebut tidak hanya memperkaya keahlian dalam pembangunan jalan raya tanggul, tetapi juga membina sumber daya manusia lokal yang berbakat di bidang teknik.
Muhammad Rizky Pradana, seorang insinyur berusia 26 tahun, mengakui awalnya merasa cukup tertekan menghadapi persyaratan manajemen mutu proyek yang ketat. Namun, berkat bimbingan dari rekan-rekannya yang berasal dari Tiongkok, ia dengan cepat menguasai keahlian tersebut. “Pengendalian kualitas yang ketat dalam proyek ini telah memungkinkan saya mempelajari berbagai keterampilan profesional dan metode manajemen baru,” ujarnya.
Mochamad Zumar Habibi (37), yang telah bekerja di CRBC selama satu dekade, menjadi contoh komitmen jangka panjang perusahaan dalam membina staf lokal. Bekerja di CRBC telah meningkatkan taraf hidup keluarganya. “Saya berharap dapat terus bekerja di CRBC hingga masa pensiun,” ujar Habibi.
Tanggung Jawab Sosial
Bagi warga setempat, kehadiran para kontraktor Tiongkok tidak hanya membawa teknologi dan keterampilan, tetapi juga rasa tanggung jawab sosial yang kuat. Kumaidi, seorang perangkat desa setempat, menceritakan bahwa ancaman banjir rob telah menghantui desanya selama bertahun-tahun. Air laut setinggi hampir satu meter sering meluap dan melumpuhkan akses jalan.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, tim proyek CRBC memberikan bantuan dengan meninggikan jalan pedesaan yang membentang hampir 5 kilometer hingga sekitar 1 meter, sehingga secara signifikan menambah kemampuan jalan tersebut sebagai penahan banjir. Tim proyek juga memasang lampu jalan di sejumlah titik strategis untuk menerangi jalanan yang sebelumnya gelap gulita pada malam hari.
“Persis seperti armada Cheng Ho saat tiba di Semarang berabad-abad yang lalu, para kontraktor dari Tiongkok saat ini juga datang membawa persahabatan dan kerja sama yang saling menguntungkan,” tutur Kumaidi.
