Mei 25, 2026

Krisis Pangan Global 2026 Memburuk, WFP: 266 Juta Orang Terancam Kelaparan

images


Ininih.com –
World Food Programme bersama jaringan internasional merilis Global Report on Food Crises (GRFC) 2026 pada 23 April 2026. Laporan ini menegaskan bahwa krisis pangan global kini berada di level tertinggi kedua dalam sejarah modern, dengan lonjakan kelaparan ekstrem meningkat hingga sembilan kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Sepanjang 2025, sebanyak 266 juta orang di 47 negara mengalami kerawanan pangan akut. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan kondisi pada 2016. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,4 juta orang berada dalam fase kelaparan paling kritis (IPC fase 5), yaitu kondisi di mana kelangsungan hidup benar-benar terancam.

Dampak paling serius terjadi pada anak-anak. Tercatat 35,5 juta anak mengalami malnutrisi akut, termasuk hampir 10 juta anak dalam kondisi severe wasting atau kekurangan gizi berat yang berisiko kematian tinggi. Situasi ini menunjukkan bahwa krisis pangan tidak hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga berdampak langsung pada generasi masa depan.

Sebagian besar beban krisis terkonsentrasi di sepuluh negara utama, yaitu Afghanistan, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, dan Yaman. Negara-negara ini menyumbang sekitar dua pertiga dari total populasi rawan pangan global, didorong oleh kombinasi konflik, ketidakstabilan ekonomi, dan gangguan produksi pangan.

Salah satu sorotan utama dalam laporan ini adalah kondisi di Gaza. Untuk pertama kalinya dalam sejarah GRFC, kelaparan dikonfirmasi terjadi di wilayah tersebut pada 2025.
Para pejabat PBB menyebut situasi di Gaza sebagai kemunduran gizi anak tercepat yang pernah tercatat. Dalam hitungan bulan, jumlah anak dengan malnutrisi akut meningkat lebih dari dua kali lipat.

Kondisi ekonomi yang runtuh memperparah krisis. Tingkat pengangguran di Gaza mencapai sekitar 80 persen, dengan ratusan ribu pekerjaan hilang dan puluhan ribu bisnis berhenti beroperasi. Dalam situasi ini, harga pangan melonjak drastis.
Beberapa komoditas bahkan mengalami kenaikan hingga 300 persen, sementara biaya makanan harian hampir dua kali lipat. Tepung terigu sebagai bahan pokok juga mengalami lonjakan harga signifikan akibat terbatasnya pasokan.

Sudan menjadi wilayah kedua yang dikonfirmasi mengalami kelaparan ekstrem. Konflik berkepanjangan, perpindahan penduduk secara masif, serta terbatasnya akses bantuan kemanusiaan menciptakan kondisi yang sangat rentan. Bersama Gaza, Sudan, Myanmar, dan Sudan Selatan masuk dalam kategori krisis gizi paling parah secara global.

Laporan ini juga menyoroti faktor utama yang mendorong memburuknya krisis pangan global. Konflik bersenjata tetap menjadi penyebab utama, terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Selain itu, perubahan iklim semakin memperparah situasi melalui cuaca ekstrem yang mengganggu produksi pangan. Ketidakpastian ekonomi global dan gangguan rantai pasok juga ikut mempercepat kenaikan harga pangan.

Ke depan, proyeksi 2026 dinilai sangat mengkhawatirkan. GRFC memperingatkan bahwa jika kondisi saat ini tidak segera ditangani, hingga 45 juta orang tambahan berpotensi masuk dalam kategori rawan pangan akut. Artinya, skala krisis bisa meningkat signifikan dalam waktu singkat.
Laporan ini menjadi peringatan keras bagi komunitas internasional.

Tanpa intervensi cepat dan terkoordinasi, krisis pangan global tidak hanya akan memburuk, tetapi juga berpotensi menciptakan dampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi, sosial, dan politik di berbagai wilayah dunia.

krisis-pangan-global-2026-wfp-266-juta-orang-terancam-kelaparan

krisis pangan global, wfp 2026, kelaparan dunia, gaza krisis pangan, sudan kelaparan, grfc 2026, malnutrisi anak, perubahan iklim pangan

WFP dalam laporan GRFC 2026 memperingatkan krisis pangan global memburuk. Sebanyak 266 juta orang terancam kelaparan, dengan Gaza dan Sudan menjadi wilayah paling parah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *