Agustus 24, 2026

Lonjakan Harga Telur di China Picu Kekhawatiran, Konsumen Mulai Batasi Pembelian

IMG_20260729_235033

China, konsumen telur per kapita terbesar di dunia, sedang mengalami lonjakan harga telur yang signifikan dan mulai menyentuh saraf masyarakat. Harga telur di berbagai kota besar melonjak lebih dari 30 persen dalam tiga bulan terakhir, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap inflasi pangan dan stabilitas ekonomi rumah tangga.

Di Beijing, harga satu kilogram telur kini mencapai sekitar 15 yuan atau sekitar Rp33.000, naik dari rata-rata 11 yuan pada April lalu. Situasi serupa terjadi di Shanghai dan Guangzhou, di mana harga telur menembus angka 16 yuan per kilogram. Kenaikan ini menjadi perhatian karena telur merupakan salah satu sumber protein utama dan paling terjangkau bagi masyarakat China.

Penyebab utama lonjakan harga adalah wabah flu burung yang melanda sejumlah peternakan di provinsi penghasil telur seperti Henan dan Shandong. Selain itu, gangguan pada rantai pasok akibat kenaikan harga pakan ternak, yang dipicu oleh meningkatnya biaya impor jagung dan kedelai, turut memperburuk situasi. Biaya transportasi yang meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar juga menjadi faktor pendorong.

Masyarakat mulai merasakan dampaknya langsung. Sejumlah konsumen mengaku mulai membatasi pembelian telur dan beralih ke sumber protein lain yang lebih murah, seperti tahu dan tempe. Pedagang di pasar tradisional juga melaporkan penurunan permintaan meskipun harga terus melambung, menciptakan tekanan baru bagi usaha kecil dan menengah di sektor kuliner yang sangat bergantung pada telur sebagai bahan baku.

Pemerintah China telah merespons dengan melepas cadangan telur dari gudang penyimpanan strategis ke pasar untuk menstabilkan harga. Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan juga menginstruksikan daerah-daerah penghasil untuk meningkatkan produksi dan memastikan distribusi berjalan lancar. Namun, langkah ini masih memerlukan waktu untuk meredakan tekanan di pasar.

Analis memperkirakan harga telur akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan mengingat siklus pemulihan peternakan yang membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga enam bulan. Jika wabah flu burung terus menyebar dan biaya pakan tidak turun, tekanan inflasi pangan di China dapat meningkat, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tingkat inflasi secara keseluruhan dan mengurangi daya beli masyarakat, terutama di kalangan berpenghasilan rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *