Juli 24, 2026

Pasar Eropa dan AS Lesu di Tengah Ketegangan Timur Tengah yang Meningkat

140234854

Pasar saham Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan performa lesu pada awal pekan ini karena investor semakin khawatir dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu gelombang inflasi baru. Indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup turun 0,30 persen atau 1,92 poin ke level 639,60, mengakhiri tren reli yang sempat terjadi pada beberapa sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks FTSE 100 di London merosot 0,71 persen ke posisi 10.524,76, menjadi salah satu indeks utama dengan pelemahan terdalam. Investor di Eropa dan AS kompak memilih sikap wait and see di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Pelemahan pasar terjadi setelah AS melancarkan serangan udara ke Iran selama sembilan malam berturut-turut. Serangan yang terus berlanjut ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang dapat mengganggu pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah Brent sempat menembus level US$90 per barel untuk pertama kalinya dalam sebulan, sebelum akhirnya berhasil dipangkas sebagian keuntungannya. Sektor energi justru menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan dengan pertumbuhan 0,98 persen, di tengah lonjakan harga komoditas.

Di London, FTSE 100 tidak hanya tertekan oleh konflik di Timur Tengah, tetapi juga oleh ketidakpastian politik domestik pasca pergantian Perdana Menteri Inggris. Andy Burnham yang baru dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris menghadapi tantangan berat untuk menyeimbangkan kebijakan fiskal di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan tingginya utang nasional. Investor menunggu kejelasan arah kebijakan ekonomi baru, terutama terkait pendanaan program-program sosial dan pemotongan pajak energi yang baru diumumkan. Kabar penunjukan Shabana Mahmood sebagai Kanselir yang akan memimpin pengelolaan fiskal menjadi perhatian utama.

Saham sektor perjalanan dan pariwisata menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 0,95 persen karena kekhawatiran akan dampak konflik terhadap industri penerbangan. Ryanair menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam setelah maskapai murah tersebut melaporkan laba kuartal pertama yang turun 34 persen akibat kenaikan biaya bahan bakar dan penurunan tarif. Saham-saham di sektor konstruksi perumahan juga ikut tertekan karena kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan terus membebani kemampuan masyarakat dalam membeli rumah.

Meskipun pasar secara umum menunjukkan pelemahan, sektor teknologi masih berhasil mencatat kenaikan tipis 0,13 persen setelah pada pekan sebelumnya saham-saham teknologi global mengalami tekanan yang cukup berat. Investor saat ini menanti laporan keuangan raksasa teknologi Amerika Serikat seperti Alphabet yang dijadwalkan rilis pekan ini untuk mengukur keberlanjutan permintaan di sektor kecerdasan buatan. Beberapa analis menilai bahwa kekhawatiran akan konflik Timur Tengah masih bisa diimbangi oleh kinerja solid dari sektor teknologi.

Di AS, ketiga indeks utama Wall Street juga ditutup melemah pada awal pekan. Dow Jones Industrial Average turun 307,16 poin atau 0,59 persen ke level 51.839,26, sementara S&P 500 melemah 14,41 poin atau 0,19 persen ke 7.443,28. Nasdaq Composite hanya turun tipis 0,05 persen ke 25.508,07 karena saham-saham teknologi dan chip berhasil memangkas sebagian kerugian. Indeks semikonduktor Philadelphia SE sempat naik hampir 4 persen di awal sesi sebelum akhirnya hanya menguat 0,6 persen.

Ancaman baru muncul setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb, membuka front baru dalam konflik yang memperluas ancaman terhadap pasokan energi global. Sementara itu, mediator dari Qatar, Mesir, dan Pakistan mengajukan proposal gencatan senjata 10 hari antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menciptakan ruang dialog. Namun, upaya diplomasi ini belum membuahkan hasil karena serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz terus berlanjut.

Investor saat ini berada dalam posisi sulit, terjepit antara risiko geopolitik yang meningkat dan potensi kejutan positif dari musim laporan keuangan. Ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba S&P 500 di kuartal kedua mencapai 26 persen, meningkat dari perkiraan sebelumnya sebesar 23,7 persen. Namun, ketidakpastian di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dapat menggerus optimisme tersebut. Ke depan, pergerakan pasar akan sangat bergantung pada perkembangan diplomasi di Timur Tengah dan respons kebijakan bank sentral terhadap tekanan inflasi yang muncul kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *