Proyeksi Ekonomi Global OECD Turun ke 2,1% pada 2026 di Tengah Konflik Timur Tengah
Proyeksi ekonomi global OECD menunjukkan bahwa pertumbuhan dunia pada 2026 turun drastis menjadi hanya 2,1 persen dari 3,4 persen pada 2025, apabila konflik Timur Tengah berlanjut hingga 2027. Dalam laporan OECD Economic Outlook yang dirilis Rabu (3/6/2026), organisasi yang mewakili 38 negara industri itu menyajikan dua skenario kontras yang menggambarkan betapa rapuhnya pemulihan ekonomi global di tengah gejolak geopolitik saat ini.
Konflik yang berpusat di kawasan Teluk Persia ini, terutama eskalasi perang AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari, telah mengganggu produksi energi dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Akibatnya, harga komoditas melonjak drastis: harga gas alam Asia naik 80,8 persen, gas Eropa melonjak 43,2 persen, sementara harga minyak mentah, pupuk, dan produk terkait hidrokarbon lainnya ikut terdongkrak.
Dalam skenario yang lebih optimistis, di mana perdamaian tercapai dan harga energi mulai mereda pada pertengahan 2026, OECD memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 2,8 persen pada 2026, sebelum pulih ke 3,1 persen pada 2027. Namun Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta menekankan bahwa skenario buruk bukan sekadar kemungkinan teoretis, melainkan gambaran nyata besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung dunia apabila penyelesaian konflik terus tertunda.

“Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar biaya ekonomi dan sosialnya,” kata Scarpetta. Ia memperingatkan bahwa banyak negara berisiko jatuh ke dalam resesi, sementara melemahnya investasi—termasuk di industri padat energi dan kecerdasan buatan (AI)—kemungkinan akan mendorong pengangguran lebih tinggi.
Tekanan energi sudah mulai menggerus daya beli masyarakat. OECD memperkirakan sekitar sepertiga negara anggota akan mengalami pertumbuhan upah riil negatif pada 2026, yang berarti standar hidup buruh di negara-negara tersebut benar-benar menurun. Di kawasan Eropa yang sangat tergantung pada impor energi, zona euro diperkirakan hanya tumbuh 0,8 persen pada 2026, anjlok dari 1,4 persen pada 2025.
Sementara itu, negara-negara berkembang diprediksi menjadi korban paling parah. Rumah tangga di negara-negara ini menghabiskan porsi pendapatan yang lebih besar untuk energi dan pangan, sehingga guncangan harga akan langsung menghantam daya beli mereka. India misalnya, telah terpaksa memberlakukan jatah gas bagi warganya, sementara Jepang dan Korea Selatan yang memiliki cadangan energi besar masih mampu bertahan lebih lama.
Dari sisi inflasi, bahkan dalam skenario terbatas sekalipun, OECD memperkirakan inflasi global akan naik menjadi 4,0 persen pada 2026 dari 3,4 persen pada 2025. Dalam skenario terburuk, tekanan inflasi akan bertambah 0,4 poin persentase pada 2026 dan 1,3 poin persentase pada 2027, yang kemungkinan akan memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga 0,5 hingga 0,75 poin persentase dalam jangka pendek.
Bank sentral global kini berada dalam posisi sulit: antara mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penurunan suku bunga, atau mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter yang lebih ketat. OECD memperingatkan agar bank sentral tidak terburu-buru memangkas suku bunga, mengingat risiko inflasi yang masih tinggi.
Analitis ke depan
Jika konflik berlanjut hingga 2027, ekonomi global akan menghadapi salah satu periode pertumbuhan terlemah dalam sejarah modern, di luar krisis keuangan 2009 dan pandemi 2020. Angka 1,8 persen pada 2027 adalah level yang hanya pernah terjadi dalam situasi krisis besar. Dunia bukan hanya menghadapi perlambatan, tetapi ancaman nyata resesi berganda di berbagai kawasan.
Langkah yang perlu segera diambil adalah diplomasi. Gencatan senjata yang langgeng di Timur Tengah bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi kebutuhan ekonomi global yang mendesak. Tanpa itu, lonjakan harga energi akan terus menghantam konsumen, memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, dan memperpanjang ketidakpastian investasi.
Di tengah tekanan ini, AI disebut-sebut sebagai satu-satunya titik terang. Investasi besar-besaran di sektor teknologi diperkirakan dapat meningkatkan PDB per kapita G20 rata-rata 0,4 persen—termasuk 0,9 persen di AS—namun semua itu tergantung pada berakhirnya konflik dan menurunnya harga energi.
Pelajaran mendasar dari laporan ini adalah bahwa ketergantungan ekonomi global pada satu jalur pelayaran—Selat Hormuz—telah menjadi titik kerentanan fatal. OECD menyerukan diversifikasi sumber energi yang lebih agresif dan penguatan ketahanan rantai pasok untuk menghadapi guncangan serupa di masa depan.
Bagi Indonesia, tekanan ekonomi global akan terasa melalui tiga saluran sekaligus: kenaikan harga BBM impor, pelemahan ekspor komoditas jika negara mitra dagang utama memasuki resesi, serta tekanan pada nilai tukar rupiah. Pemerintah perlu menyiapkan skenario adaptif, termasuk optimalisasi cadangan energi nasional, percepatan transisi energi, dan penguatan bantuan sosial untuk melindungi kelompok masyarakat paling rentan.
Internal link:
“Iran serang bandara Kuwait dengan drone dan rudal, 63 terluka” — /konflik-dunia/iran-serang-bandara-kuwait-2026/
“Trump yakin kesepakatan dengan Iran tercapai pekan depan” — /konflik-dunia/trump-yakin-kesepakatan-iran-pekan-depan-2026/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“ekspor Filipina surplus pangan Indonesia di tengah krisis AS” — /ekonomi/ekspor-filipina-surplus-pangan-indonesia-2026/
