Putin Ikuti Latihan Armada Pasifik di Kapal Varyag, Tegaskan Kesiapan Tempur dan Tanggapi Tekanan Jepang
Presiden Rusia Vladimir Putin, yang berada di atas kapal pesiar Varyag, mengikuti latihan di tahap akhir Armada Pasifik pada Rabu (12/8). Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan arahan dan menekankan sejumlah isu strategis terkait keamanan nasional dan geopolitik.
Putin menyoroti prestasi pertempuran Korps Marinir Armada Pasifik, khususnya Brigade ke-155 yang kini menjadi Divisi Marinir ke-55. “Tidak ada tugas-tugas pertempuran yang tidak dapat dilakukan oleh Marinir Armada Pasifik. Mereka mampu menangani setiap misi. Anggota militer kita bertindak dengan berani, profesional, dan heroik, sementara Armada secara keseluruhan memenuhi tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dalam wilayah tanggung jawab mereka,” ujarnya.
Ia mengamati bahwa potensi konflik di kawasan Asia-Pasifik semakin besar, dengan NATO memperluas kehadirannya, blok militer-politik baru dibentuk, dan sistem senjata baru ditempatkan yang membahayakan Rusia. Tegangan juga meningkat di wilayah Arktik, terutama terkait penggunaan Jalan Laut Utara. Putin menegaskan Rusia siap bekerja sama dalam pemanfaatan Jalan Laut Utara dengan China, India, dan negara lain dalam kerangka hukum internasional.
Menyinggung Jepang, Putin menyayangkan perubahan posisi Tokyo yang menerapkan sanksi terhadap Rusia tanpa mempertimbangkan sebab-sebab konflik di Ukraina. Lebih lanjut, Jepang untuk pertama kalinya dalam doktrin militernya mengidentifikasi Rusia sebagai salah satu sumber ancaman utama. “Saya ingin menekankan: Rusia tidak mengancam Jepang. Kami tidak memiliki klaim apa pun terhadap Jepang,” tegasnya. Namun, ia mengakui bahwa perubahan ini mendorong pengembangan Armada Pasifik, termasuk peningkatan kemampuan dan potensinya, sambil tetap menyatakan kesiapan Rusia untuk bekerja sama dengan semua tetangga, termasuk Jepang.
Putin juga menyoroti upaya Uni Eropa dan beberapa negara yang berupaya membatasi pergerakan kapal-kapal Rusia, bahkan merampas dan menjual properti yang disita. Ia menyebut tindakan ini sebagai “perampokan dan perampokan.” Peringatan keras disampaikan bahwa Rusia akan membalas dengan cara yang sama jika tindakan tersebut mulai diterapkan, di mana pun, termasuk di wilayah tanggung jawab Armada Pasifik. Meskipun demikian, Putin menegaskan Rusia akan terus memperkuat keamanan, sambil tetap siap mencari kompromi yang dapat diterima semua tetangga dan mitra berdasarkan pertimbangan bersama kepentingan.
