Mei 25, 2026

Serangan Udara Tewaskan 10 Orang di Pasar DR Kongo

IMG-20260511-WA0020

Ininih.com – Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan drone yang menghantam pasar Mushaki di wilayah Masisi, Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo, pada Jumat, 8 Mei 2026.

Wilayah tersebut diketahui berada di bawah pengaruh kelompok pemberontak M23 yang selama ini dituduh mendapat dukungan Rwanda dalam konflik berkepanjangan di timur DR Kongo.

Laporan awal dari pejabat masyarakat sipil setempat menyebut serangan menghantam area pasar saat aktivitas warga masih berlangsung. Selain korban tewas, sejumlah warga sipil lain juga mengalami luka-luka dan masih menjalani penanganan medis.

Serangan Terjadi di Wilayah Konflik M23

Masisi merupakan salah satu kawasan paling rawan di Kivu Utara karena menjadi titik perebutan pengaruh antara militer pemerintah DR Kongo dan kelompok AFC/M23.

Beberapa laporan menyebut serangan berlangsung sekitar pukul 15.45 hingga 16.25 waktu setempat. Drone dilaporkan menghantam area dekat pasar Mushaki yang sedang ramai dipadati warga.

Kelompok AFC/M23 melalui juru bicaranya, Lawrence Kanyuka, menuding Angkatan Bersenjata Republik Demokratik Kongo (FARDC) berada di balik serangan tersebut.

Korban Sipil Dilaporkan Bertambah

Laporan EFE yang dikutip sejumlah media internasional menyebut sedikitnya 10 warga sipil tewas dalam insiden tersebut.

Namun versi AFC/M23 menyebut jumlah korban lebih besar, yakni sekitar 20 orang tewas dan lebih dari 57 lainnya mengalami luka-luka.

Setelah serangan terjadi, warga dan tim darurat langsung melakukan evakuasi korban di sekitar pasar dan permukiman terdekat.

Konflik Timur DR Kongo Kembali Memanas

Konflik di wilayah timur DR Kongo terus mengalami eskalasi dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak kebangkitan kembali kelompok M23.

Pemerintah DR Kongo berkali-kali menuduh Rwanda mendukung kelompok tersebut, sementara Kigali membantah tuduhan itu.

Pertempuran di Kivu Utara juga memicu gelombang pengungsian besar dan memperburuk situasi kemanusiaan di kawasan Afrika Tengah.

Drone Mulai Digunakan dalam Konflik Kongo

Penggunaan drone dalam konflik DR Kongo menjadi perhatian baru karena menunjukkan perubahan pola perang di kawasan tersebut.

Jika sebelumnya konflik lebih banyak didominasi pertempuran darat, kini serangan udara presisi mulai sering dilaporkan dalam operasi militer di wilayah timur Kongo.

Pengamat menilai tren ini berpotensi meningkatkan risiko korban sipil dan memperbesar tekanan internasional terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.

Risiko Eskalasi Regional Meningkat

Serangan di Masisi juga berpotensi memperburuk hubungan DR Kongo dan Rwanda yang selama ini sudah tegang akibat isu dukungan terhadap M23.

Selain itu, insiden terhadap area sipil dapat memicu tuduhan pelanggaran hukum humaniter internasional jika bukti-bukti tambahan terus bermunculan.
Hingga kini belum ada respons resmi besar dari PBB maupun Uni Afrika terkait serangan terbaru tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *