Mei 25, 2026

Virus Hanta di Kapal Pesiar MV Hondius: 3 Tewas, WHO Waspadai Penularan Andes Virus Antarpenumpang

IMG_20260508_080732

virus-hanta-kapal-pesiar-mv-hondius-who-2026

Virus Hanta, MV Hondius, Andes Virus, WHO, wabah kapal pesiar, hantavirus 2026, kesehatan dunia

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga orang dan memicu pelacakan internasional terhadap puluhan kontak erat. WHO memastikan strain Andes Virus dapat menular antarmanusia dalam kontak dekat.

ininih.com – Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi delapan kasus penyakit langka tersebut, termasuk tiga korban meninggal dunia hingga Jumat, 8 Mei 2026.

Kasus ini menjadi sorotan karena strain yang ditemukan adalah Andes Virus (ANDV), satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui mampu menular antar manusia melalui kontak sangat dekat dan berkepanjangan.

WHO dalam pembaruan resminya menyebut lima kasus telah terkonfirmasi positif hantavirus, sementara tiga lainnya masih berstatus suspek.

“So far, eight cases have been reported, including three deaths. Five of the eight cases have been confirmed as hantavirus, and the other three are suspected,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

WHO juga memperingatkan bahwa jumlah kasus berpotensi bertambah karena masa inkubasi Andes Virus dapat mencapai enam minggu.

MV Hondius diketahui berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026 dengan membawa 149 penumpang dan awak dari 23 negara. Kapal ekspedisi milik Oceanwide Expeditions itu melintasi Antartika, South Georgia, Tristan da Cunha, Saint Helena hingga Tanjung Verde sebelum menuju Kepulauan Canary, Spanyol.

Korban pertama merupakan pria Belanda berusia 70 tahun yang mulai mengalami demam, sakit kepala, dan gangguan pencernaan sejak 6 April sebelum meninggal di kapal pada 11 April.

Istrinya yang berusia 69 tahun kemudian jatuh sakit setelah turun di Saint Helena dan meninggal di Johannesburg, Afrika Selatan. Tes laboratorium mengonfirmasi korban positif Andes Virus.

Sementara itu, seorang pria Inggris berusia 69 tahun masih dirawat dalam kondisi kritis di ICU Johannesburg setelah dievakuasi dari kapal pada 27 April.

Korban meninggal ketiga adalah perempuan asal Jerman yang mengalami pneumonia akut sebelum meninggal pada 2 Mei 2026.

WHO dan European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) kini melacak sedikitnya 77 kontak erat di berbagai negara. Sebanyak 65 kontak berada di Afrika Selatan, termasuk penumpang dalam penerbangan komersial yang sempat digunakan salah satu pasien dari Saint Helena menuju Johannesburg.

Dua awak kapal juga dilaporkan mengalami gejala pernapasan akut dan akan dievakuasi ke Belanda untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Andes Virus sendiri merupakan strain hantavirus asal Amerika Selatan yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit pernapasan berat dengan tingkat kematian tinggi.

Virus ini umumnya menyebar melalui urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Namun berbeda dari strain lain, Andes Virus memiliki kemampuan langka untuk menular antar manusia dalam kontak intensif.

WHO menyebut risiko global saat ini masih rendah dan tidak memperkirakan wabah besar akan terjadi jika langkah kesehatan publik dijalankan secara disiplin.

Penyelidikan awal mengarah pada kemungkinan sumber infeksi berasal dari Ushuaia, Argentina. Pasangan Belanda yang menjadi korban diduga sempat melakukan aktivitas bird-watching di area tempat pembuangan sampah sebelum naik kapal, lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus pembawa hantavirus.

Saat ini Argentina, Afrika Selatan, Belanda, Spanyol, dan sejumlah negara lain terus melakukan investigasi bersama untuk memastikan rantai penyebaran virus dapat dihentikan sebelum berkembang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *