Mei 25, 2026

BOCORAN INTELIJEN AS: 90 PERSEN RUDAL IRAN MASIH OPERASIONAL, KLAIM TRUMP HANCURKAN MILITER TEHERAN DIPERTANYAKAN

82569-rudal-iran-tasnimnews

Ininih.com — Laporan intelijen rahasia AS yang bocor ke The New York Times pada awal Mei 2026 mengungkap fakta yang langsung mengguncang narasi resmi Washington: Iran telah memulihkan akses ke 30 dari 33 situs rudal strategis di sepanjang Selat Hormuz, hampir 90 persen fasilitas rudal bawah tanahnya kembali beroperasi penuh atau sebagian, dan sekitar 70 persen stok rudal serta peluncur bergerak masih utuh. Angka-angka itu bertentangan langsung dengan klaim Presiden Trump pada Maret 2026 bahwa Iran “tidak memiliki apa pun yang tersisa dalam arti militer.”

Kesenjangan antara Retorika dan Intelijen

Klaim Trump bahwa rudal Iran telah “tersebar dan berkurang” dan pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahwa operasi gabungan AS-Israel telah membuat militer Iran “tidak efektif dalam pertempuran selama bertahun-tahun” kini berhadapan langsung dengan penilaian intelijen pemerintah AS sendiri. Pemulihan yang terjadi jauh lebih cepat dari perkiraan Pentagon — sebuah pengakuan implisit bahwa kalkulasi awal soal efek serangan udara terhadap infrastruktur militer Iran terlalu optimistis.

Yang paling mengkhawatirkan dari temuan intelijen ini bukan angka situs yang pulih, melainkan peluncur bergerak yang tersisa. Dengan 70 persen peluncur bergerak masih utuh, Iran mempertahankan kemampuan yang paling sulit dideteksi dan paling sulit dinetralisasi — sistem yang bisa berpindah lokasi dalam hitungan jam dan tidak memberikan tanda tetap bagi pengintaian satelit. Di kawasan Selat Hormuz, kemampuan ini diterjemahkan langsung menjadi ancaman nyata terhadap kapal perang AS dan tanker minyak yang masih berlayar di perairan itu.

Gedung Putih merespons dengan bahasa keras: juru bicara Olivia Wales menyebut siapa pun yang percaya Iran telah membangun kembali militernya sebagai “delusional” atau “juru bicara IRGC.” Namun respons itu tidak menyertakan data tandingan — hanya bantahan verbal terhadap laporan yang mengutip pejabat AS sendiri sebagai sumbernya.

Klaim Kemenangan yang Belum Terbukti

Bocoran intelijen ini memiliki implikasi yang melampaui perdebatan soal efektivitas serangan udara. Jika 90 persen fasilitas rudal bawah tanah Iran kembali beroperasi hanya beberapa bulan setelah serangan yang diklaim sebagai salah satu operasi militer terbesar AS dalam satu dekade, maka asumsi dasar di balik strategi “tekanan maksimum” Washington perlu dievaluasi ulang.

Fakta ini juga mengubah kalkulasi di meja negosiasi. Iran yang masih memiliki 70 persen kekuatan rudalnya bukan Iran yang sedang bernegosiasi dari posisi lemah — ini adalah Iran yang tahu bahwa kemampuan deterensinya masih nyata dan masih bisa digunakan sebagai kartu tawar. Proposal 14 poin Teheran yang ditolak Trump, ultimatum Ghalibaf, dan ancaman pengayaan uranium ke 90 persen semuanya lebih mudah dipahami dalam konteks ini: Teheran tidak merasa sudah dikalahkan, karena secara militer, belum.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *