Mei 25, 2026

GRAHAM SEBUT PAKISTAN TAK BISA DIPERCAYA, MEDIASI AS-IRAN TERANCAM KEHILANGAN PENENGAH UTAMA

6a0392251800002ecad67284

Ininih.com — Senator Republik Lindsey Graham tidak menyembunyikan skeptisismenya dalam sidang Senate Appropriations Subcommittee on Defense pada Selasa 12 Mei: “Saya tidak percaya Pakistan sejauh saya bisa melempar mereka.” Keraguan itu dipicu laporan bahwa pesawat Iran diparkir di Pangkalan Udara Nur Khan di Rawalpindi — sebuah tindakan yang dinilai Graham tidak konsisten dengan posisi Pakistan sebagai mediator netral dalam konflik AS-Iran.

Tim OSINT India Today mengonfirmasi setidaknya satu pesawat terkait Iran memang terparkir di pangkalan tersebut. Jika Pakistan terbukti melindungi aset militer Iran sambil berpura-pura menjadi penengah, seluruh arsitektur mediasi yang selama ini menopang gencatan senjata 8 April bisa runtuh.

Citra Satelit yang Memperumit Segalanya
Graham menyampaikan keraguan itu langsung di hadapan Jenderal Dan Caine, Ketua Joint Chiefs of Staff, yang merespons dengan hati-hati: “Saya telah melihat satu laporan tentang itu” — sebuah pengakuan implisit bahwa laporan tersebut sudah sampai ke level tertinggi militer AS, namun tidak bisa dikonfirmasi secara terbuka karena sensitivitas diplomatik.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth memilih jalan yang sama: menghindari tuduhan langsung dengan alasan tidak ingin “terlibat di tengah negosiasi.”

Keengganan Hegseth dan Caine untuk membantah laporan itu secara tegas justru memberi bobot lebih pada kekhawatiran Graham. Jika pesawat Iran memang diparkir di pangkalan militer Pakistan — bahkan jika alasannya adalah perlindungan aset di tengah konflik aktif — ini menempatkan Islamabad dalam posisi yang secara diplomatik tidak bisa dipertahankan sebagai mediator netral.
Graham secara eksplisit menyimpulkan: “Tidak heran masalah ini tidak berjalan ke mana-mana.”

Graham juga menyentuh dimensi yang lebih luas: China membeli persentase yang “sangat besar” dari minyak Iran, sebuah fakta yang diakui Hegseth. Keterkaitan antara Pakistan, China, dan Iran dalam konteks ini bukan sekadar kebetulan geografis — ini adalah jaringan kepentingan yang, menurut Graham, membuat Pakistan secara struktural tidak bisa menjadi mediator yang benar-benar netral bagi Washington.

Siapa Pengganti Pakistan?

Pertanyaan yang ditinggalkan Graham — “mungkin harus mencari orang lain untuk menjadi mediator” — langsung membuka spekulasi soal alternatif.
Oman sudah memainkan peran mediasi dalam konflik AS-Iran di masa lalu dan saat ini aktif mendorong inisiatif kemanusiaan di Selat Hormuz melalui IMO. Qatar, meski kapalnya baru saja diserang drone pada 10 Mei, masih mempertahankan jalur komunikasi dengan Teheran.

Keduanya memiliki rekam jejak yang lebih bersih sebagai penengah dibanding Pakistan yang kini terbebani laporan pesawat Iran di pangkalannya.
Kehilangan mediator utama di tengah kebuntuan yang sudah separah ini — proposal 14 poin Iran ditolak, gencatan senjata yang Trump sendiri sebut “luar biasa lemah,” dan rudal Iran yang ternyata 70 persen masih utuh — bukan sekadar masalah prosedural.

Ini adalah krisis kepercayaan yang mengancam satu-satunya jalur yang tersisa antara Washington dan Teheran sebelum keduanya kembali ke bahasa senjata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *