Media Singapura Sorot Rupiah Anjlok, Turis Singapura Tetap Serbu Jakarta
Media Singapura sorot rupiah anjlok yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, dengan nilai tukar mencapai kisaran Rp17.855 hingga Rp17.880 per dolar AS pada awal Juni 2026. Yang menarik, pelemahan rupiah ini justru menjadi berkah bagi sektor pariwisata Jakarta. Media Singapura, The Straits Times, dalam laporannya yang terbit Selasa (2/6/2026) menyoroti fenomena kontradiktif ini: di tengah maraknya video viral aksi kejahatan jalanan yang menargetkan wisatawan asing—yang bahkan membuat sebagian warganet membandingkan Jakarta dengan Gotham City, kota fiksi penuh kriminalitas dalam komik Batman—wisatawan dari Singapura justru tetap berbondong-bondong datang, berburu belanja, fashion, hingga kuliner di ibu kota.
The Straits Times menulis dalam artikel berjudul “Jakarta crime fears rise, but rupiah slide keeps Singaporeans coming for shopping and food” bahwa daya tarik nilai tukar yang melemah ternyata lebih kuat daripada rasa khawatir akan keamanan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura yang saat ini berada di kisaran Rp13.800 hingga Rp14.000 membuat daya beli turis dari Negeri Singa meningkat drastis. Seorang wisatawan bernama Noraini Rahmat (52) yang diwawancarai media tersebut bahkan berkelakar, “Tidak ada waktu untuk takut—terlalu banyak belanjaan yang harus dilakukan.”
Fenomena ini tidak berhenti pada satu-dua individu. Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan pusat perbelanjaan seperti Thamrin City, blok-blok pusat perbelanjaan di SCBD, Kemang, hingga area kuliner Blok M, ramai dikunjungi wisatawan asal Singapura. Marcus Tan (38), wisatawan lain yang singgah tiga hari di Jakarta setelah berlibur ke Nusa Tenggara Timur, mengatakan bahwa 100 dolar Singapura benar-benar cukup untuk membeli lebih banyak barang, makan lebih banyak, dan tetap terasa lebih hemat dibandingkan di negara asalnya.
Kejahatan Jalanan Meningkat, Polisi Bertindak
Di balik gemerlap belanja dan euforia wisatawan, masalah serius tengah menghantui Jakarta. Sejumlah video viral di media sosial memperlihatkan aksi penjambretan dan perampokan bersenjata yang dilakukan di siang bolong oleh pelaku berboncengan motor. Korbannya tidak hanya warga lokal, tetapi juga turis asing. Beberapa insiden menonjol yang disorot media Singapura antara lain: seorang warga negara Polandia menjadi korban perampasan tas di kawasan Kebon Sirih, Menteng, pada 8 Mei 2026, dan seorang turis asal Italia kehilangan ponselnya setelah dijambret di dekat Bundaran Hotel Indonesia (HI) saat menunggu ojek online pada 14 Mei 2026.
Merespons situasi ini, Polda Metro Jaya mengumumkan telah menyelesaikan 171 kasus kejahatan jalanan dan menangkap 103 tersangka sepanjang lima bulan pertama 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mendorong penegakan hukum yang lebih tegas dan mengusulkan integrasi sekitar 24.000 kamera pengawas (CCTV) di seluruh Jakarta menjadi satu sistem pemantauan terpadu yang diharapkan rampung pada 2027. Sebuah tim khusus anti-penjambretan yang dijuluki “begal hunters” juga telah dibentuk sebagai respons atas kekhawatiran publik.
Analitis ke depan
Sorotan The Straits Times ini adalah pedang bermata dua bagi Indonesia. Di satu sisi, pelemahan rupiah memberikan suntikan likuiditas bagi sektor ritel dan pariwisata domestik di saat tekanan ekonomi global sedang tinggi. Data BPS menunjukkan Singapura menjadi sumber wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia, dengan lebih dari 320.000 kunjungan pada kuartal pertama 2026. Tren ini diprediksi akan terus meningkat sepanjang tahun jika rupiah masih bertahan di level terdepresiasi.
Namun di sisi lain, stigma “Gotham City” yang melekat pada Jakarta adalah alarm yang tidak bisa diabaikan. Reputasi sebagai destinasi wisata yang aman adalah aset tak berwujud yang sangat mahal harganya. Jika pemerintah dan aparat tidak serius menangani akar masalah kejahatan jalanan—yang seringkali terkait dengan kemiskinan, putus sekolah, dan lemahnya patroli di titik-titik rawan—maka efek psikologis jangka panjang bisa menggerus kepercayaan tidak hanya turis asing, tetapi juga investor dan ekspatriat yang tinggal di Jakarta.
Ke depan, momentum pelemahan rupiah harus dimanfaatkan untuk membenahi infrastruktur keamanan secara masif. Sistem CCTV terintegrasi dan peningkatan patroli rutin adalah langkah awal yang baik, tetapi tanpa penegakan hukum yang tegas dan efek jera, siklus kriminalitas akan terus berulang. Jakarta memiliki peluang emas untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi destinasi belanja sekelas Singapura—namun itu hanya akan terwujud jika warganya dan wisatawan yang berkunjung merasa benar-benar aman, tidak hanya saat berbelanja di mal, tetapi juga saat berjalan kaki di trotoar.
Internal Link :
“Indonesia tingkatkan ekspor alat kesehatan ke Filipina naik 25%” — /ekonomi/ekspor-alkes-indonesia-filipina-naik-25-persen-2026/
“ekonomi global di ujung uji di tengah pergeseran kekuatan dunia” — /ekonomi-global/ekonomi-global-di-ujung-uji-2026/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
“Prabowo dan Albanese serukan perdamaian di Gaza dan Ukraina” — /diplomasi/prabowo-albanese-perdamaian-gaza-ukraina-2026/
