Tarif AS 25 Persen untuk Brasil, Trump Tuding Praktik Dagang Tak Adil
Tarif AS 25 persen Brasil secara resmi diusulkan pemerintahan Donald Trump pada awal Juni 2026, menyusul investigasi yang menyimpulkan bahwa negara terbesar di Amerika Latin itu telah melakukan serangkaian praktik perdagangan tidak adil yang merugikan kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) merilis dokumen temuan setebal 107 halaman yang menuding Brasil gagal menegakkan hak kekayaan intelektual secara memadai, tidak mengambil tindakan cukup kuat untuk memberantas korupsi sistemik, serta membatasi akses pasar bagi etanol produksi AS. Investigasi yang dilakukan berdasarkan Bagian 301 Undang-Undang Perdagangan 1974 ini membuka jalan bagi pengenaan bea masuk tambahan sebesar 25 persen pada berbagai barang impor asal Brasil, yang bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.
Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer mengatakan langkah tegas ini diperlukan untuk mengatasi apa yang disebutnya sebagai “kekhawatiran lama dan menyeluruh” Washington terhadap kebijakan perdagangan Brasil. Dalam dokumen USTR, setidaknya terdapat tujuh poin keluhan utama, termasuk kegagalan Brasil dalam melindungi hak kekayaan intelektual perusahaan AS, penerapan tarif preferensial yang diskriminatif, serta perlakuan istimewa terhadap sistem pembayaran digital lokal bernama Pix yang dianggap merugikan perusahaan kartu kredit Amerika seperti Visa dan Mastercard. Pemerintah AS juga menyoroti kebijakan regulasi platform digital di Brasil yang mewajibkan perusahaan teknologi asing mematuhi perintah penghapusan konten tanpa proses pengadilan yang layak.
Keputusan ini langsung memicu reaksi keras dari Brasília. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menerima usulan tarif tersebut “dengan kemarahan” dan menuduh langkah itu bermotif politik, bukan teknis. Dalam konferensi pers di Catalão, Goiás, Lula menegaskan bahwa ia telah berbicara langsung dengan Donald Trump selama tiga jam pekan lalu, tetapi tampaknya dialog itu tidak membuahkan hasil. “Saya menerima keputusan ini dengan sangat marah. Saya sudah bilang ke Trump bahwa orang-orangnya tidak menyukai Brasil. Marco Rubio itu adalah musuh bebuyutan Amerika Latin,” tegas Lula.
Menurut Lula, tuduhan ketidakseimbangan dagang dari AS sama sekali tidak berdasar. Ia mengklaim bahwa justru Brasil yang selama 15 tahun terakhir mencatat surplus perdagangan yang menguntungkan Negeri Paman Sam. “Mereka bilang ada ketidakseimbangan? Itu kebohongan. AS mengantongi surplus 415 miliar dolar AS dari hubungan dagang dengan Brasil selama 15 tahun terakhir. Jadi dasarnya apa?” ujarnya dengan nada tinggi. Lula juga menyerang Senator Flávio Bolsonaro yang baru saja berkunjung ke Gedung Putih, menyebut anak mantan presiden Jair Bolsonaro itu sebagai “pengkhianat bangsa” karena dinilai meminta campur tangan asing dalam urusan dalam negeri Brasil.
Meski ancaman tarif 25 persen terdengar menyeluruh dan mengerikan, dokumen USTR sebenarnya merinci sejumlah pengecualian yang cukup luas. Produk-produk seperti daging sapi, kopi, logam tanah jarang, minyak mentah, produk petrokimia, suku cadang pesawat terbang, serta buah dan sayuran tertentu dibebaskan dari tarif baru ini. Secara total, sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar 55 persen dari total ekspor Brasil ke AS hingga awal Juni 2026 diperkirakan lolos dari sanksi. Alasannya sederhana: AS tidak ingin menciptakan kekurangan pasokan domestik yang justru akan memicu inflasi dan merugikan konsumen Amerika sendiri. Beban tarif terberat akan jatuh pada produk-produk industri manufaktur, bahan kimia, dan barang industri non-strategis lainnya.
Konfederasi Industri Nasional Brasil (CNI) menyatakan keprihatinan mendalam melalui siaran pers resmi. CNI menilai bahwa tindakan tarif sepihak semacam ini tidak berkontribusi pada penguatan hubungan ekonomi bilateral dan justru berpotensi merusak rantai produksi yang sudah terintegrasi. Presiden CNI Ricardo Alban menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam negosiasi yang sedang berlangsung. Sementara itu, Federasi Industri Minas Gerais (FIEMG) memperingatkan bahwa tarif tambahan akan mengurangi daya saing produk Brasil, memperbesar ketidakpastian bagi perusahaan eksportir, serta mengganggu investasi dan lapangan kerja.
Proses ke depan masih menyisakan waktu bagi diplomasi. USTR membuka periode komentar publik hingga 1 Juli 2026, dengan sidang publik dijadwalkan pada 6 Juli. Batas akhir pengambilan “tindakan responsif” adalah 15 Juli. Artinya, terdapat jendela waktu sekitar enam pekan bagi pemerintahan Lula untuk bernegosiasi, baik dengan menawarkan konsesi kebijakan di sektor-sektor yang dipersoalkan maupun dengan memanfaatkan kekuatan tawar Brasil sebagai pemasok komoditas vital bagi AS.
Analitis ke depan
Kasus tarif terhadap Brasil ini unik karena selama ini Amerika Serikat justru menikmati surplus perdagangan dengan Brasil—berbeda dengan sasaran tarif Trump sebelumnya seperti China atau Uni Eropa. Fakta ini membuat banyak analis mencurigai bahwa langkah Washington lebih dipicu oleh dinamika politik dalam negeri AS dan kunjungan Flávio Bolsonaro ke Gedung Putih daripada bukti objektif praktik dagang tidak adil. Brasil kini memiliki beberapa opsi: membawa sengketa ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), memberlakukan tarif balasan pada produk-produk AS, atau mencari perjanjian bilateral di luar jalur WTO. Jika perang dagang benar-benar pecah, stabilitas ekonomi regional dan global akan semakin terancam di tengah gejolak geopolitik yang sudah tinggi. Investor dan pelaku pasar disarankan untuk mencermati dengan seksama perkembangan negosiasi dalam enam pekan ke depan.
Internal link:
pemotongan SNAP AS picu 3,5 juta warga kehilangan akses pangan — /ekonomi-global/pemotongan-snap-as-kerawanan-pangan-2026/
inflasi pangan AS tembus 3,2% di April 2026 — /ekonomi-global/inflasi-pangan-as-2026-harga-pangan-naik-konflik-iran/
Trump yakin kesepakatan dengan Iran tercapai pekan depan — /konflik-dunia/trump-yakin-kesepakatan-iran-pekan-depan-2026/
ekspor Filipina surplus pangan Indonesia di tengah krisis AS — /ekonomi/ekspor-filipina-surplus-pangan-indonesia-2026/
130 konflik aktif dunia di 2026 — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
