Iran Serang Bandara Kuwait dengan Drone dan Rudal, 63 Terluka
Iran serang bandara Kuwait pada Rabu (3/6/2026) pagi waktu setempat. Drone dan rudal balistik Iran menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan kerusakan parah pada bangunan serta melukai puluhan orang. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal di kawasan Teluk, memperluas zona konflik yang sebelumnya terpusat di Selat Hormuz dan Lebanon.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Brigadir Jenderal Saud Abdulaziz Al-Otaibi, menyebut serangan itu sebagai “agresi kriminal Iran” yang mengakibatkan kerusakan material signifikan dan korban cedera. Kantor berita resmi Kuwait KUNA melaporkan sirene peringatan terdengar untuk kedua kalinya malam itu, sementara otoritas penerbangan sipil langsung menangguhkan lalu lintas udara dan mengalihkan penerbangan ke bandara alternatif. Staf Umum Angkatan Darat Kuwait mengimbau warga untuk tetap waspada dan menjauhi puing-puing atau benda tak dikenal pasca-ledakan.
Korban Berjatuhan, Penerbangan Lumpuh
Juru bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 63 orang terluka dalam serangan tersebut, termasuk penumpang dan staf bandara. Tujuh operasi darurat telah dilakukan di rumah sakit setempat, dengan kondisi cedera bervariasi mulai dari patah tulang, trauma kepala, hingga luka bakar. Satu orang warga negara asing yang sedang menunggu penerbangan dilaporkan tewas. Ini menjadi serangan langsung pertama terhadap infrastruktur sipil Kuwait sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu.
Terminal 1, gerbang utama penerbangan internasional Kuwait, mengalami kerusakan parah pada gedung dan fasilitas penumpang. Otoritas penerbangan sipil mengumumkan aktivasi rencana darurat dan penangguhan semua penerbangan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kuwait Airways menghentikan operasinya sementara waktu, sementara sejumlah maskapai asing mulai mengalihkan rute ke bandara-bandara alternatif di Arab Saudi dan UEA. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi dan logistik di salah satu pusat transit minyak utama kawasan Teluk.
Serangan Balasan setelah AS Bombardir Pulau Qeshm
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa Iran meluncurkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain sebagai respons atas serangan AS terhadap Pulau Qeshm—pulau strategis Iran di Selat Hormuz. Militer AS mengklaim telah mencegat dua rudal yang ditembakkan ke Kuwait sebelum sempat menghantam sasaran, namun drone tetap berhasil mencapai terminal bandara. Tiga rudal lain yang diarahkan ke Bahrain berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara gabungan AS dan Bahrain.
CENTCOM juga mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan “serangan pertahanan diri” terhadap stasiun kendali darat militer Iran di Pulau Qeshm, melumpuhkan beberapa rudal balistik dan drone. IRGC Iran menyatakan serangan ke Kuwait dan Bahrain menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS, dan mengklaim bahwa AS sebelumnya telah menyerang kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz. “Ini adalah pembalasan atas agresi AS, dan harus menjadi pelajaran bagi Washington,” demikian pernyataan resmi IRGC.
Iran juga menuduh Kuwait mengizinkan pasukan AS melancarkan serangan dari wilayahnya. Kementerian Luar Negeri Iran secara eksplisit menyebut Kuwait dan Bahrain dalam pernyataan kecamannya, serta mengirim peringatan keras kepada negara-negara kawasan yang memfasilitasi operasi militer AS. “Negara mana pun yang memfasilitasi serangan dari wilayahnya akan menghadapi serangan balasan yang menargetkan pangkalan AS di negara tersebut,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip Al Jazeera.
Analitis ke depan
Serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait menandai eskalasi signifikan dalam konflik AS-Iran. Untuk pertama kalinya, infrastruktur sipil negara ketiga—yang bukan peserta langsung perang—menjadi sasaran, dan jatuh korban jiwa. Ini mengubah kalkulasi risiko bagi semua negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Oman kini harus bersiap menghadapi kemungkinan serangan serupa, mengingat Iran secara eksplisit mengancam akan membalas setiap serangan AS dari wilayah negara tetangga.
Bagi pasar global, serangan ini langsung mendorong harga minyak mentah naik lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu. Jika konflik meluas dan Selat Hormuz benar-benar diblokade, dampaknya akan jauh lebih besar, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut. Investor dan analis kini mengamati apakah AS akan merespons dengan serangan balasan yang lebih besar, yang berpotensi memicu perang regional terbuka.
Kuwait, yang selama ini berusaha menjaga netralitas dan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, kini terjebak dalam pusaran konflik yang tidak diinginkannya. Pemerintah Kuwait menghadapi tekanan ganda: mempertahankan hubungan keamanan dengan AS sekaligus melindungi warganya dari serangan langsung Iran. Ke depan, stabilitas kawasan Teluk akan sangat bergantung pada kemampuan AS dan Iran untuk kembali ke meja negosiasi—sebuah prospek yang semakin jauh setelah serangan berdarah di Kuwait ini.
Internal link:
“Trump murka ke Netanyahu: Kamu Gila, Semua Orang Membencimu” — /konflik-dunia/trump-murka-netanyahu-lebanon-gila-batal-serang/
“Iran hentikan negosiasi dengan AS, gencatan di Lebanon jadi prasyarat” — /konflik-dunia/iran-hentikan-negosiasi-as-israel-serang-lebanon-2026/
“Trump yakin kesepakatan dengan Iran tercapai pekan depan” — /konflik-dunia/trump-yakin-kesepakatan-iran-pekan-depan-2026/
“130 konflik aktif dunia di 2026, tertinggi dalam sejarah modern” — /geopolitik/130-konflik-aktif-dunia-wef-2026/
“harga minyak Juni 2026 sentuh USD126, OPEC+ tambah produksi” — /ekonomi-global/harga-minyak-juni-2026-opec-tambah-produksi/
