40 Tewas Tenggelam di Prancis Akibat Gelombang Panas Ekstrem, Mayoritas Remaja
40 tewas tenggelam di Prancis akibat gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026, menjadikan negara itu salah satu yang paling parah terdampak oleh fenomena heat dome atau kubah panas yang memecahkan rekor suhu. Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengonfirmasi jumlah korban jiwa tersebut dalam rapat kabinet darurat pada Selasa (23/6/2026), menyebutnya sebagai “bencana tenggelam yang tragis”. Sejak 18 Juni, sedikitnya 40 orang meninggal dunia saat berusaha mendinginkan diri di sungai, danau, dan kanal di tengah suhu yang menyengat.
Sebagian besar korban adalah anak muda, dengan banyak di antaranya merupakan remaja yang berenang di area tanpa pengawasan petugas penyelamat. Menteri Pemuda dan Olahraga Prancis Marina Ferrari mengingatkan bahwa berenang di area tanpa pengawasan selama gelombang panas bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Di antara korban jiwa terdapat seorang gadis berusia 13 tahun yang tenggelam di Sungai Seine di Fontaine-la-Port pada Minggu malam, meskipun ia tidak bisa berenang. Seorang pesepak bola profesional muda juga dilaporkan dalam kondisi kritis setelah dievakuasi dari Sungai Rhône di sebuah taman dekat Lyon, tempat empat pemuda lainnya mengalami kesulitan di area yang melarang aktivitas berenang.
Selain korban tenggelam, dua anak berusia dua dan empat tahun ditemukan tidak sadarkan diri di dalam mobil yang terparkir di Carpentras, Prancis tenggara, pada hari Senin. Tiga orang lanjut usia berusia 80 hingga 95 tahun juga meninggal di wilayah Bordeaux akibat masalah kesehatan yang dipicu oleh panas ekstrem.
Gelombang panas ini memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di Prancis. Pada Selasa (23/6), suhu rata-rata nasional mencapai 29,8 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya 29,4 derajat Celsius yang tercatat pada gelombang panas Agustus 2003 dan Juli 2019. Suhu tertinggi tercatat di Pissos, Landes, yang mencapai 44,3 derajat Celsius. Météo-France menyatakan bahwa Selasa adalah hari terpanas sejak pengukuran dimulai pada tahun 1947. Malam hari juga mencatat rekor sebagai malam terpanas sejak 1947, dengan suhu minimum rata-rata 21,6 derajat Celsius di 30 stasiun cuaca.
Lebih dari setengah wilayah Prancis ditempatkan di bawah status siaga merah, tingkat peringatan tertinggi untuk gelombang panas. Sebanyak 49 hingga 54 departemen berada dalam status siaga merah. Akibatnya, lebih dari 800 sekolah terpaksa ditutup dan sekitar 1.800 sekolah menyesuaikan jadwal mereka untuk menghindari jam-jam terpanas di siang hari.
Operator kereta api nasional Prancis, SNCF, memperingatkan bahwa suhu tinggi memberikan tekanan signifikan pada infrastruktur kereta api. Menara Eiffel dan Louvre, dua tempat wisata paling banyak dikunjungi di dunia, juga mempersingkat jam buka mereka. Menara Eiffel ditutup lebih dari delapan jam lebih awal dari biasanya pada Selasa, sementara Louvre akan tutup dua jam lebih awal hingga Sabtu.
Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa ini disebabkan oleh fenomena “Omega Block” atau “heat dome” . Pola atmosfer yang bertahan lama ini membentuk kubah seperti simbol omega Yunani yang memerangkap udara panas, mencegah awan terbentuk dan menyebabkan suhu terus naik setiap hari. Udara panas dari Gurun Sahara terdorong ke Eropa, menyebabkan suhu di Prancis, Spanyol, dan Italia melampaui 40 derajat Celsius.
40 tewas tenggelam di Prancis akibat gelombang panas ekstrem pada Juni 2026 menjadi salah satu tragedi terburuk yang pernah tercatat di negara itu. Mayoritas korban adalah remaja yang mencari kelegaan dari panas di perairan tanpa pengawasan. Dengan lebih dari 800 sekolah ditutup dan rekor suhu yang terus dipecahkan setiap hari, krisis ini menunjukkan betapa mematikannya dampak perubahan iklim ketika dikombinasikan dengan fenomena cuaca ekstrem seperti heat dome. Pemerintah Prancis kini menghadapi tantangan besar untuk melindungi warganya dari ancaman gelombang panas yang diperkirakan akan semakin sering terjadi di masa depan.
