Juli 18, 2026

Gempa Yamanashi 5,6 SR Guncang Jepang, Getaran Terasa hingga Tokyo

GEMPA-JEPANG

Gempa Yamanashi 5,6 SR mengguncang Prefektur Yamanashi, Jepang tengah, pada Jumat (26/6/2026) pukul 22.29 waktu setempat. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat pusat gempa berada di wilayah Fujikawaguchiko, Yamanashi, pada kedalaman 20 kilometer. Guncangan dirasakan kuat di Kota Fujikawaguchiko dengan intensitas shindo bawah 6—level ketiga tertinggi dalam skala intensitas gempa Jepang yang mencapai 7—serta skala 5 atas di Kota Otsuki, Yamanashi. Getaran juga terasa di Prefektur Kanagawa, Shizuoka, dan Tokyo.

Meski cukup kuat, JMA memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Intensitas shindo bawah 6 dapat menyebabkan seseorang kesulitan berdiri, benda-benda jatuh, dan jendela kaca pecah.

Shinkansen Sempat Berhenti, Operasional Kembali Normal 15 Menit Kemudian

Gempa ini sempat mengganggu layanan transportasi. JR Central menghentikan sementara operasional kereta peluru Tokaido Shinkansen antara Stasiun Tokyo dan Shizuoka untuk pemeriksaan keselamatan. Layanan Shinkansen Tohoku, Joetsu, dan Hokuriku juga berhenti otomatis melalui sistem keselamatan yang aktif saat gempa terjadi. Seluruh layanan kembali normal sekitar 15 menit kemudian setelah dipastikan aman.

Chubu Electric Power melaporkan tidak ada kelainan yang terdeteksi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Hamaoka. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan besar akibat gempa ini.

Gempa Yamanashi terjadi di kawasan Danau Lima di sekitar Gunung Fuji, yang populer di kalangan wisatawan. Ini merupakan gempa kedua dengan magnitudo di atas 5 yang mengguncang dekat Tokyo pada hari yang sama, setelah sebelumnya gempa 5,8 SR mengguncang Prefektur Chiba. Sehari sebelumnya, Jepang juga diguncang gempa 6,9 SR di lepas pantai timur laut Prefektur Iwate.

Jepang, yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, memang memiliki aktivitas kegempaan tertinggi di dunia karena berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.

Gempa Yamanashi 5,6 SR pada 26 Juni 2026 menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di Jepang. Meski tidak menimbulkan korban jiwa atau kerusakan besar, guncangan yang terasa hingga Tokyo dan penghentian sementara Shinkansen menunjukkan bahwa sistem peringatan dini dan protokol keselamatan Jepang bekerja dengan baik. Ke depan, kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan tetap diperlukan, mengingat Jepang berada di kawasan yang sangat aktif secara seismik. Dengan standar bangunan tahan gempa dan sistem peringatan dini yang mumpuni, Jepang terus menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam mitigasi bencana gempa bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *