Juli 18, 2026

Desa Krandegan Buktikan Transisi Energi Nyata: Sawah Tadah Hujan Kini Panen Tiga Kali Setahun Berkat Sinar Matahari

IMG_20260715_211400

Desa Krandegan di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, membuktikan bahwa transisi energi bukan sekadar wacana yang bergema di kota-kota besar. Di tengah ancaman kemarau panjang dan fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), para petani di desa ini berhasil menciptakan ketahanan pangan yang tangguh dengan memanfaatkan energi matahari untuk sistem irigasi persawahan. Inovasi ini mengubah hamparan sawah seluas 70 hektare yang dulunya hanya mengandalkan hujan, menjadi lahan produktif yang mampu dipanen hingga tiga kali setahun.

Kunci dari lompatan produktivitas ini adalah penggantian pompa air berbahan bakar solar dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang ramah lingkungan. Berawal dari bantuan satu unit pompa dari pemerintah provinsi pada tahun 2022, program ini terus dikembangkan menggunakan dana desa dan Corporate Social Responsibility (CSR). Kini, Desa Krandegan telah memiliki tujuh unit pompa bertenaga surya dengan total nilai investasi mencapai Rp850 juta, didukung oleh panel surya berkapasitas total 42.000 watt. Sistem ini bekerja memompa air dari Sungai Dulang sebagai sumber irigasi utama.

Salah satu inovasi paling menarik dari desa ini adalah “Gerandong”, singkatan dari Gerobak Surya Dorong. Teknologi ini merupakan pompa air tenaga surya yang dipasang di atas gerobak sehingga mudah dipindahkan ke lokasi persawahan yang membutuhkan pengairan. Bahkan, Gerandong telah dilengkapi dengan teknologi Internet of Things (IoT), memungkinkan petani menghidupkan, mematikan, dan memantau pompa dari jarak jauh melalui ponsel. Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas persoalan kekeringan yang kerap melanda wilayah pertanian di Desa Krandegan saat musim kemarau dan berhasil meraih penghargaan dalam ajang Krenova (Kreativitas dan Inovasi Masyarakat) 2025.

Dampak dari penggunaan energi surya ini sangat terasa. Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, membeberkan efisiensi biaya yang luar biasa. Sebelumnya, biaya operasional memompa air sangat mencekik para petani. “Dulu sehari semalam kita bisa habis Rp500 ribu untuk menghidupkan dua unit pompa 25 PK. Sekarang alhamdulillah, kita tidak beli solar sedikit pun,” ungkap Dwinanto. Sebagai gantinya, desa menerapkan sistem iuran gotong royong yang sangat terjangkau, yakni Rp2.000 per ubin, yang digunakan untuk menggaji petugas perawat pompa.

Lompatan ini sukses memberikan tambahan produksi padi hingga 420 ton per tahun. Wakil Bupati Purworejo, Dion Agassi Setiabudi, menilai inovasi yang dikembangkan Desa Krandegan menjadi contoh konkret pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung ketahanan pangan. “Apa yang dilakukan Desa Krandegan menjadi contoh nyata bagaimana kemandirian energi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan,” katanya. Desa Krandegan kini telah ditetapkan sebagai desa mandiri energi dan berhasil meraih dua penghargaan nasional.

Pemerintah desa berencana menambah pompa tenaga surya untuk mencakup 100 persen lahan pertanian. Kisah sukses Krandegan ini menjadi bukti nyata bahwa dengan inovasi dan kemauan, desa dapat menjadi pusat lahirnya teknologi tepat guna yang membawa kemandirian energi sekaligus kesejahteraan bagi petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *