Juli 18, 2026

Abah Sarnuh, Petani 80 Tahun di Sukabumi yang Bangun Listrik Mandiri sejak 2007

IMG_20260710_233246

Di sebuah kampung di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, seorang petani berusia 80 tahun berhasil membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berinovasi. Abah Sarnuh memanfaatkan aliran air di sekitar rumahnya untuk menghasilkan listrik mandiri melalui pembangkit listrik tenaga air sederhana yang ia bangun sendiri secara otodidak hampir dua dekade lalu. Sejak tahun 2007, Abah Sarnuh telah membuktikan bahwa pengetahuan dan ketekunan dapat mengubah sumber daya alam menjadi solusi energi yang mandiri.

Pembangkit mini tersebut mulai dirakit pada 2007 dengan modal sekitar Rp3,2 juta yang digunakan untuk membeli dinamo, kabel, dan material pembuatan kincir air. Abah Sarnuh merangkai sendiri seluruh sistem dari nol, tanpa bantuan teknisi atau pelatihan formal. Hasilnya, listrik yang dihasilkan tak hanya mampu memenuhi kebutuhan rumahnya sendiri, tetapi juga pernah digunakan untuk menerangi sejumlah rumah warga di sekitarnya serta menghidupkan perangkat elektronik seperti televisi. “Dulu listriknya bahkan bisa dipakai hingga sekitar 10 rumah,” ujar Abah Sarnuh dengan bangga.

Ide membangun pembangkit listrik mandiri itu muncul karena biaya pemasangan listrik dan kebutuhan kabel menuju lokasi rumahnya dinilai cukup besar pada saat itu. Pada tahun 2007, jaringan listrik dari PLN belum menjangkau kampung terpencil tersebut, dan biaya untuk menarik kabel dari titik terdekat sangat mahal bagi seorang petani. Tanpa pilihan lain, Abah Sarnuh memutuskan untuk mencari solusi sendiri. Ia mengamati aliran air yang deras di dekat rumahnya dan terinspirasi untuk mengubah energi air menjadi listrik.

Sistem pembangkit yang dibuat Abah Sarnuh sangat sederhana. Aliran air dari sungai kecil di belakang rumahnya diarahkan untuk memutar kincir air yang terbuat dari bilah-bilah kayu. Putaran kincir kemudian menggerakkan dinamo sepeda motor yang dimodifikasi untuk menghasilkan arus listrik. Arus tersebut kemudian dialirkan melalui kabel ke rumahnya dan beberapa rumah tetangga. Meskipun kapasitasnya kecil dan hanya cukup untuk menyalakan lampu dan perangkat elektronik sederhana, inovasi ini memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Hingga kini, meskipun usia peralatan yang digunakan mulai memengaruhi kinerjanya dan lampu kerap berkedip, Abah Sarnuh tetap menjalani aktivitasnya sebagai petani sambil menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan dapat melahirkan solusi dari potensi alam yang ada di sekitar. Usianya yang telah memasuki 80 tahun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus merawat dan memperbaiki alat yang telah dibuatnya. Ia masih turun ke sawah setiap pagi, dan di sela-sela waktu luangnya, ia memeriksa kincir air dan dinamo untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.

Kisah Abah Sarnuh menjadi inspirasi bahwa energi terbarukan tidak selalu membutuhkan teknologi canggih dan investasi besar. Dengan memanfaatkan potensi lokal dan kemauan untuk belajar, setiap orang bisa berkontribusi pada kemandirian energi. Di tengah isu perubahan iklim dan kebutuhan akan energi bersih, inovasi sederhana seperti ini patut diapresiasi dan dikembangkan lebih lanjut. Banyak desa di Indonesia yang memiliki potensi air serupa tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Semangat Abah Sarnuh mengingatkan kita bahwa solusi seringkali ada di sekitar kita, dan yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus berusaha. Ia adalah contoh nyata bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk berinovasi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Kiprah Abah Sarnuh menjadi cerita yang menginspirasi generasi muda untuk melihat potensi di sekitarnya dan berani menciptakan perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *