Harga minyak dunia berada di bawah tekanan naik seiring meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi membuat pasar bersikap waspada.
Ancaman eskalasi konflik di kawasan tersebut menjadi faktor utama yang mendorong sentimen pasar.
Setiap indikasi gangguan, baik berupa blokade maupun serangan, langsung memicu spekulasi kenaikan harga karena risiko pasokan yang terganggu.
Level US$100 per barel kini kembali menjadi batas psikologis yang diperhatikan pelaku pasar.
Jika ketegangan terus meningkat, peluang harga menembus level tersebut semakin terbuka.
Dampaknya tidak berhenti di sektor energi. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global, meningkatkan biaya transportasi, serta menekan sektor industri yang bergantung pada energi.
Negara-negara pengimpor minyak akan menjadi pihak yang paling merasakan tekanan tersebut.
Di sisi lain, situasi ini juga memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap geopolitik.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut, tetapi titik kendali yang dapat memengaruhi keseimbangan ekonomi global dalam waktu singkat.
Secara keseluruhan, ancaman kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa konflik kawasan memiliki efek langsung ke ekonomi dunia. Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak mengenal batas negara.
harga-minyak-100-hormuz-2026
harga minyak dunia, Hormuz, krisis energi, geopolitik minyak
Harga minyak berpotensi tembus US$100 akibat ketegangan di Selat Hormuz yang mengancam pasokan global.
