Konferensi Terakhir Powell Jadi Penentu Arah Pasar Global
ininih.com – Pasar global menunggu konferensi pers Jerome Powell pada 29 April 2026 sebagai momen kunci yang berpotensi menentukan arah aset keuangan dalam jangka pendek.
Fokus utama bukan pada keputusan suku bunga, melainkan pada sinyal kebijakan ke depan. Pertemuan Federal Open Market Committee berlangsung di tengah inflasi AS yang kembali naik ke 3,3% (Maret 2026), dipicu tekanan harga energi dari konflik Timur Tengah.
Konteks makin krusial karena ini adalah konferensi terakhir Powell sebelum masa jabatannya berakhir 15 Mei 2026. Posisi tersebut akan digantikan oleh Kevin Warsh, yang diperkirakan membawa pendekatan berbeda terhadap kebijakan moneter.
Ekspektasi pasar: – Suku bunga ditahan di 3,50%–3,75%
– Fokus pada “nada” pernyataan Powell
Dua skenario utama:
- Hawkish
Powell menekankan inflasi masih kuat → peluang kenaikan suku bunga terbuka
Implikasi: tekanan pada saham & kripto - Dovish
Powell menyoroti risiko perlambatan ekonomi → peluang penurunan suku bunga
Implikasi: ruang naik untuk aset berisiko
Variabel tambahan: – Sikap Powell pasca lengser (tetap di The Fed atau keluar)
– Transisi kekuatan ke Warsh
Dampak pasar: – Likuiditas global jadi faktor utama
– Aset berisiko sensitif terhadap arah kebijakan
– Volatilitas tinggi dalam jangka pendek
Kesimpulan: Event ini bukan soal angka suku bunga, tapi arah kebijakan. Pasar membaca bahasa, bukan keputusan.
konferensi-powell-fed-2026-arah-pasar-global-suku-bunga
Jerome Powell, The Fed, FOMC, suku bunga AS, inflasi AS, Kevin Warsh, pasar saham, kripto
Konferensi terakhir Jerome Powell diperkirakan menjadi penentu arah pasar global, dengan fokus pada sinyal kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi dan transisi kepemimpinan The Fed.
