Relokasi Desa Zhaojiawa China Bawa Warga Keluar dari Kemiskinan Ekstrem
Relokasi Desa Zhaojiawa China menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kebijakan pemindahan penduduk dari kawasan tertinggal dapat mengubah nasib sebuah komunitas secara menyeluruh. Desa yang dahulu terletak di kawasan Pegunungan Lyuliang, Kabupaten Kelan, Provinsi Shanxi, ini merupakan salah satu wilayah termiskin di China daratan sebelum akhirnya seluruh penduduknya dipindahkan ke permukiman baru yang lebih layak huni.
Sebelum relokasi, kehidupan warga Zhaojiawa sangat bergantung pada kondisi alam yang keras. Tanah loess yang gersang serta jurang-jurang curam membuat hasil pertanian sangat terbatas, sementara sebagian warga bahkan tinggal di gua-gua kecil berukuran sekitar 20 meter persegi tanpa akses air bersih maupun listrik yang memadai. Kondisi geografis yang terisolasi juga membuat akses transportasi, pendidikan, dan layanan kesehatan sulit dijangkau oleh penduduk setempat.
Program relokasi mulai dijalankan pada 2017 sebagai bagian dari kebijakan nasional pengentasan kemiskinan berbasis pemindahan penduduk dari daerah tandus dan terisolasi ke wilayah yang lebih layak. Proses ini melibatkan ribuan petugas pemerintah yang bertugas meyakinkan warga untuk pindah, mengingat banyak dari mereka telah tinggal turun-temurun di desa tersebut selama puluhan tahun dan pada awalnya enggan meninggalkan kampung halaman.
Warga Zhaojiawa kemudian dipindahkan secara bertahap ke kawasan permukiman baru bernama Guanghuiyuan di Songjiagou, tidak jauh dari pusat Kabupaten Kelan. Permukiman ini dibangun di atas lahan seluas lebih dari 700 mu atau sekitar 46,7 hektare dan dirancang mampu menampung puluhan ribu penduduk dari berbagai desa tertinggal di sekitarnya. Rumah baru yang mereka tempati sudah dilengkapi fasilitas dasar seperti air mengalir, saluran gas, hingga sistem pemanas ruangan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan di desa lama.
Setelah menetap di permukiman baru, sebagian besar warga mulai beralih profesi dari petani subsisten menjadi pekerja di sektor industri maupun jasa. Pemerintah daerah setempat mencatat bahwa sekitar 78 persen warga yang direlokasi berhasil memperoleh pekerjaan baru, sebagian di antaranya bekerja di pabrik-pabrik yang sengaja didirikan di sekitar kawasan permukiman untuk menyerap tenaga kerja hasil relokasi. Salah satu contohnya adalah bekerja di pabrik wol kaca dengan penghasilan bulanan yang jauh lebih stabil dibandingkan hasil bertani maupun beternak di kampung halaman lama.
Selain memperoleh pekerjaan tetap, warga yang direlokasi juga tetap menerima manfaat ekonomi dari lahan pertanian mereka di desa asal melalui skema bagi hasil. Setelah rumah-rumah lama dibongkar, lahan bekas permukiman dan area pertanian yang sebelumnya tandus dikonversi menjadi kawasan reboisasi dan penanaman pohon ekonomis. Program ini tidak hanya menghijaukan kembali lereng-lereng gunung yang gundul, tetapi juga memberikan pendapatan tambahan bagi warga melalui sistem bagi hasil dari hasil kehutanan tersebut.
Perubahan gaya hidup turut dirasakan langsung oleh warga lanjut usia yang sebelumnya harus mencari kayu bakar dan mengambil air dari sumber alami setiap hari. Kini dengan akses toilet, air bersih, dan pemanas di rumah baru, banyak dari mereka menyebut masa relokasi sebagai periode paling nyaman dalam hidup mereka setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan di pegunungan.
Pemerintah kabupaten setempat menegaskan bahwa proses relokasi bukan sekadar pemindahan tempat tinggal, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan struktural yang telah berlangsung lintas generasi di kawasan pegunungan tersebut. Selain menyediakan hunian baru, otoritas daerah juga aktif mendatangkan pelatihan keterampilan kerja serta mendorong investasi industri kecil di sekitar kawasan permukiman agar warga memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Kasus Zhaojiawa menjadi bagian dari pola yang lebih luas di Provinsi Shanxi, di mana ratusan ribu warga dari desa-desa tertinggal di kawasan pegunungan telah dipindahkan ke permukiman yang lebih layak dalam beberapa tahun terakhir. Pendekatan yang menggabungkan relokasi permukiman dengan penciptaan lapangan kerja serta pemanfaatan lahan bekas desa untuk kehutanan dan pertanian bernilai ekonomi ini menjadi model yang terus direplikasi di berbagai kawasan tertinggal lain di China daratan, sebagai upaya menekan kesenjangan antara wilayah pedesaan terisolasi dan kawasan perkotaan yang lebih maju.
