AS-Iran Saling Serang, Selat Hormuz Terancam Lumpuh
AS-Iran saling serang kembali setelah Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap fasilitas militer Iran. Eskalasi terbaru ini langsung mengguncang pasar global dan memperbesar ancaman terhadap stabilitas Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia.
Ketegangan meningkat cepat pada Kamis malam 28 Mei 2026 ketika Iran menyerang fasilitas militer AS di Kuwait. Serangan tersebut disebut sebagai respons langsung atas operasi militer Amerika terhadap target-target Iran yang dilakukan setelah kapal perang AS diserang di kawasan Teluk.
Militer Amerika kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas Iran. Presiden Donald Trump menyebut serangan terhadap kapal AS sebagai serangan langsung terhadap Amerika Serikat dan menegaskan Washington siap merespons setiap ancaman lebih lanjut.
Meski demikian, Trump tetap mengklaim bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran secara teknis masih berlaku. Pernyataan itu memperlihatkan situasi yang semakin kontradiktif di kawasan Teluk: perang terbatas terus berlangsung, tetapi jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.
Dampak paling cepat terlihat di pasar energi global. Harga minyak Brent melonjak lebih dari 3 persen hingga menembus US$ 103 per barel, sementara minyak WTI mendekati US$ 97 per barel. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa konflik AS-Iran bisa mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Bursa saham global juga bergerak melemah karena investor mulai mengantisipasi risiko krisis energi baru. Premi asuransi kapal tanker di kawasan Teluk dilaporkan meningkat tajam hingga 30 sampai 40 persen akibat ancaman keamanan maritim yang terus memburuk.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena jalur sempit itu dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Gangguan kecil saja sudah cukup memicu volatilitas harga energi global, sementara konflik terbuka berpotensi menciptakan krisis pasokan yang jauh lebih besar.
Iran sebelumnya telah berulang kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat terus meningkat. Parlemen Iran bahkan disebut telah menyetujui langkah untuk menutup jalur tersebut sebagai respons terhadap serangan AS.
Ketegangan di kawasan Teluk juga meningkat setelah sejumlah insiden terhadap kapal dan fasilitas energi di sekitar Uni Emirat Arab dan perairan strategis Timur Tengah. Situasi itu memperbesar kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan AS, tetapi mulai mengancam stabilitas kawasan secara menyeluruh.
Secara geopolitik, eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa gencatan senjata rapuh yang dimediasi beberapa pekan terakhir belum mampu menyelesaikan akar konflik antara Washington dan Teheran. Kedua pihak masih mempertahankan tekanan militer sambil mencoba menjaga ruang negosiasi tetap terbuka.https://ininih.com/ultimatum-trump-iran-48-jam-deal-atau-serangan/
Bagi pasar global, ancaman terbesar bukan hanya perang langsung, tetapi ketidakpastian berkepanjangan. Dunia masih sangat bergantung pada stabilitas jalur energi Timur Tengah, sementara konflik yang terus berulang membuat risiko gangguan pasokan semakin sulit diprediksi.
Jika ketegangan terus meningkat dan Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampaknya kemungkinan tidak hanya dirasakan sektor energi. Inflasi global, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi negara-negara importir minyak berpotensi terkena tekanan baru dalam beberapa bulan ke depan.
“gencatan senjata AS-Iran” — /konflik-dunia/gencatan-senjata-as-iran-rapuh-2026/
“ultimatum Trump ke Iran” — /konflik-dunia/ultimatum-trump-iran-48-jam-2026/
“uranium Iran 60 persen” — /konflik-dunia/uranium-iran-440-kg-60-persen-ancaman-nuklir-2026/
“krisis energi Eropa” — /ekonomi-global/krisis-energi-eropa-dampak-perang-iran-imf-resesi/
“ekonomi Timur Tengah” — /ekonomi-global/ekonomi-timur-tengah-tekanan-konflik-energi-2026/
