Banjir Bandang di Kyushu Jepang Setelah Topan Jangmi, 16 Tewas dan Ratusan Ribu Mengungsi
Hujan deras yang mengguyur Pulau Kyushu, Jepang bagian selatan, pada awal Juni 2026 memicu banjir bandang dan tanah longsor yang merusak ribuan rumah serta menelan banyak korban jiwa. Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut dilanda Topan Jangmi, yang memicu peringatan evakuasi tingkat tinggi dan menimbulkan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Topan Jangmi mulai menerjang Kepulauan Okinawa pada 1 Juni sebelum bergerak menuju Kyushu. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat kecepatan angin mencapai 126 kilometer per jam saat topan mendekati Kyushu pada 2 Juni. Topan ini memicu hujan lebat yang sangat ekstrem. Di Kota Miyazaki, curah hujan tercatat lebih dari 300 milimeter dalam waktu 24 jam. Hujan deras ini menyebabkan sungai-sungai meluap dan memicu tanah longsor di berbagai wilayah.
Dampak dan Korban Jiwa
Banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh Topan Jangmi menyebabkan kerusakan parah di berbagai prefektur di Kyushu. Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa sedikitnya 16 orang tewas, sementara 15 orang lainnya masih hilang dan terus dicari oleh tim penyelamat.
Jumlah korban luka-luka mencapai puluhan orang. Data dari Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat sedikitnya 23 orang terluka di enam prefektur akibat topan ini. Kerusakan terparah terjadi di Prefektur Kumamoto, di mana banjir menghancurkan rumah-rumah, menyapu kendaraan, dan menyebabkan jembatan runtuh. Sebuah panti jompo juga terendam banjir setelah tanggul sungai jebol, menewaskan 14 orang.
Hujan deras terus berlanjut bahkan setelah topan mereda. Pada 7 Juni, hujan masih mengguyur Kyushu selatan dan meningkatkan risiko bencana. JMA memperingatkan potensi tanah longsor, banjir di dataran rendah, dan luapan sungai. Curah hujan diperkirakan mencapai 150 milimeter di Kyushu selatan.
Evakuasi dan Respons Pemerintah
Pemerintah Jepang dengan cepat mengeluarkan peringatan darurat. Pada puncak badai, lebih dari 800.000 warga di Prefektur Miyazaki dan Kagoshima menerima perintah evakuasi. JMA mengeluarkan peringatan banjir level 4, yang meminta seluruh warga di area berbahaya untuk segera mengungsi.
Sebanyak 12.000 personel dari Pasukan Bela Diri Jepang, kepolisian, dan pemadam kebakaran dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Mereka juga bertugas mengevakuasi warga yang terisolasi akibat banjir dan longsor.
Dampak topan juga terasa di sektor transportasi dan pendidikan. Lebih dari 580 penerbangan domestik dan internasional dibatalkan, sementara 5.378 sekolah dan universitas di 23 prefektur ditutup untuk menjamin keselamatan siswa.
Banjir di Kyushu pada Juni 2026 menjadi pengingat akan kerentanan Jepang terhadap bencana alam, terutama di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Kecepatan dan ketepatan pemerintah dalam mengeluarkan peringatan serta melakukan evakuasi patut diacungi jempol. Namun, bencana ini juga menunjukkan bahwa infrastruktur dan sistem peringatan dini masih perlu terus ditingkatkan.
Ke depan, investasi dalam sistem mitigasi bencana seperti tanggul, waduk, dan sistem peringatan dini berbasis teknologi menjadi sangat krusial. Edukasi kepada masyarakat tentang prosedur evakuasi yang benar juga harus terus digalakkan untuk meminimalkan korban jiwa di masa mendatang. Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, serta koordinasi yang baik dengan berbagai pihak, akan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana alam di masa depan.
