Ininih.com – Parlemen Irak resmi memilih Nizar Amedi sebagai presiden baru dalam pemungutan suara yang berlangsung pada 11–12 April 2026 di Baghdad. Pemilihan ini sekaligus mengakhiri kebuntuan politik yang telah berlangsung selama sekitar lima bulan.
Dalam sidang paripurna, Nizar Amedi meraih 227 suara pada putaran kedua, jauh mengungguli kandidat independen Muthanna Amin Nader yang memperoleh 15 suara.

Setelah hasil ditetapkan, ia langsung mengucapkan sumpah jabatan di hadapan parlemen sebagai bagian dari proses resmi pengangkatan presiden.
Peristiwa ini menjadi titik balik penting bagi stabilitas politik Irak.

Selama berbulan-bulan, proses politik mengalami stagnasi akibat tarik-menarik kepentingan antar faksi. Pemilihan presiden ini membuka jalan bagi tahapan berikutnya, yaitu pembentukan pemerintahan baru.
Dalam sistem politik Irak, posisi presiden memang bersifat lebih seremonial.

Namun, peran ini tetap krusial karena menjadi pintu awal dalam proses penunjukan perdana menteri dan pembentukan kabinet. Tanpa presiden definitif, roda pemerintahan tidak dapat berjalan penuh.
Secara struktural, hasil pemungutan suara ini juga mencerminkan adanya konsolidasi politik di parlemen.

Selisih suara yang sangat lebar menunjukkan bahwa kompromi politik akhirnya tercapai setelah periode kebuntuan yang panjang.
Dengan berakhirnya deadlock politik ini, Irak memasuki fase baru yang lebih menentukan.

Stabilitas pemerintahan kini bergantung pada kemampuan elite politik menjaga konsensus yang telah terbentuk dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang konkret.

irak-pilih-presiden-baru-akhiri-deadlock

Irak presiden baru, Nizar Amedi, politik Irak, parlemen Irak

Parlemen Irak pilih Nizar Amedi sebagai presiden baru, akhiri kebuntuan politik lima bulan dan buka jalan pembentukan pemerintahan.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *